<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>As Salam</title>
	<atom:link href="http://salamislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salamislam.wordpress.com</link>
	<description>Pojok Renungan, Pembelajaran, Kajian tentang Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Jan 2012 11:00:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='salamislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>As Salam</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://salamislam.wordpress.com/osd.xml" title="As Salam" />
	<atom:link rel='hub' href='http://salamislam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KUNCI SUKSES MENGAIS REZEKI</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2010/10/17/kunci-sukses-mengais-rezeki/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2010/10/17/kunci-sukses-mengais-rezeki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Oct 2010 17:11:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin bin Syamsuddin dari http://www.almanhaj.or.id/content/2770/slash/0 Masalah rezeki merupakan salah satu perkara yang banyak menyita perhatian manusia, sehingga ada sebagian yang menjadi budak dunia. Bahkan lebih parah lagi, sejumlah besar umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan menyempitkan peluang dalam mengais rezeki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=226&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin bin Syamsuddin</p>
<p style="text-align:justify;">dari <a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2770/slash/0">http://www.almanhaj.or.id/content/2770/slash/0</a></p>
<p style="text-align:justify;">Masalah rezeki merupakan salah satu perkara yang banyak menyita perhatian manusia, sehingga ada sebagian yang menjadi budak dunia. Bahkan lebih parah lagi, sejumlah besar umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan menyempitkan peluang dalam mengais rezeki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam, tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi, hendaknya menutup mata dari sebagian aturan Islam, terutama berkenaan dengan etika bisnis dan hukum halal haram. Padahal Sang Khalik mensyariatkan agamaNya bukan hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara akhirat saja, tetapi sekaligus menjadi pedoman sukses di dunia juga, seperti doa yang sering dipanjatkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka. [Al Baqarah:201]  Islam tidak membiarkan seorang muslim kebingungan dalam berusaha mencari nafkah. Islam telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika cara sukses mengais rezeki, membukakan pintu kemakmuran dan keberkahan. Kegiatan usaha dalam kaca mata Islam memiliki kode etik dan aturan, jauh dari sifat tamak dan serakah, sehingga mampu membentuk sebuah usaha yang menjadi pondasi masyarakat madani.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-226"></span>PUJIAN KEPADA ORANG YANG MENCARI NAFKAH</p>
<p style="text-align:justify;">Allah hanya menghalalkan usaha yang bersih dan mengharamkan usaha yang kotor. Seorang muslim tidak boleh menghalalkan segala cara dalam mengais rezeki, lantaran demi mengejar keuntungan semu yang memikat serta menggiurkan.  Harta yang bersih dan halal sangat berpengaruh positif pada gaya hidup dan perilaku manusia, bahkan menentukan diterimanya ibadah dan terkabulnya doa.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda (artinya) :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Wahai, manusia! Sesungguhnya Allah Maha Bersih, tidak menerima kecuali yang bersih. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para utusanNya, maka Allah berfirman: Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8221;. [Al Mukminun : 51].</p>
<p style="text-align:justify;">Dan Allah berfirman (artinya) : &#8220;Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik, yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah&#8221;. [Al Baqarah : 172].</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menceritakan kisah seseorang yang sedang bepergian sangat jauh, berpakaian compang-camping, berambut kusut, mengangkat tangan ke atas langit tinggi-tinggi dan berdoa: &#8220;Ya, Rabbi! Ya, Rabbi!” sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan darah dagingnya tumbuh dari yang haram; maka bagaimana terkabul doanya?[1]</p>
<p style="text-align:justify;">Berlomba secara sehat dalam mengais rezeki tidak tercela, asalkan dengan menempuh cara yang benar dan usaha yang halal. Bahkan beribadah sambil berusaha pun diperbolehkan, Allah berfirman (artinya) : &#8220;Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb-mu. Maka apabila kamu telah bertolak dari &#8216;Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy&#8217;aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkanNya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yang sesat&#8221;. [Al Baqarah : 198].</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Umar Ibnu Abdul Bar berkata: “Setiap harta yang tidak menopang ibadah kepada Allah, dan dikonsumsi untuk kepentingan maksiat serta mendatangkan murka Allah, tidak dimanfaatkan untuk menunaikan hak Allah dan kewajiban agama, maka harta tersebut tercela. Adapun harta yang diperoleh lewat usaha yang benar sementara hak-hak harta ditunaikan secara sempurna, dibelanjakan di jalan kebaikan untuk meraih ridha Allah, maka harta tersebut sangat terpuji&#8221;. [2]</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman (artinya) : &#8220;Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. &#8221; [Al A’raaf:10].</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Katsir berkata: &#8220;Allah mengingatkan kepada seluruh umat manusia tentang karuniaNya (yang) berupa kehidupan yang mapan di muka bumi, dilengkapi dengan gunung-gunung yang terpancang kokoh, sungai-sungai yang mengalir indah, dan tanah yang siap didirikan tempat tinggal dan rumah hunian, serta Allah menurunkan air hujan berasal dari awan. Dan Allah juga memudahkan kepada mereka untuk mengais rezeki dan membuka peluang maisyah (penghidupan) dengan berbagai macam usaha, bisnis dan niaga; namun sedikit sekali mereka yang mau bersyukur&#8221;.[3]</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman. (artinya) : &#8220;Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.&#8221; [Al Jumu’ah : 10].  Tentang makna firman Allah &#8220;maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” Imam Al Qurthubi menjelaskan : “Apabila kalian telah menunaikan shalat Jum’at, maka bertebaranlah kamu di muka bumi untuk berdagang, berusaha dan memenuhi berbagai kebutuhan hidupmu&#8221;. [4]</p>
<p style="text-align:justify;">Nabi juga pernah mengatakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqas: &#8220;Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan, (itu) lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam kekurangan menjadi beban orang lain&#8221;.[5]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ayyub, bahwa Abu Qilabah berkata: &#8220;Dunia tidak akan merusakmu selagi kamu masih tetap bersyukur kepada Allah,” maka Ayyub berkata bahwa Abu Qilabah berkata kepadaku: “Wahai, Ayyub! Perhatikan urusan pasarmu dengan baik, karena hidup berkecukupan termasuk bagian dari sehat wal afiat&#8221;.[6]  Yusuf bin Asbath berkata, bahwa Sufyan Ats Tsauri berkata kepadaku: “Aku meninggalkan harta kekayaan sepuluh ribu dirham yang nanti dihisab oleh Allah, lebih aku cintai daripada aku hidup meminta-minta dan menjadi beban orang lain.[7]</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa atsar (riwayat) dari para ulama mulia di atas, menepis anggapan bahwa mencari nafkah dengan cara yang benar agar hidup mandiri dan tidak menjadi beban orang lain merupakan cinta dunia yang menodai sikap kezuhudan. Padahal tidaklah demikian. Abu Darda&#8217; berkata: “Termasuk tanda kefahaman seseorang terhadap agamanya, adanya kemauan untuk mengurusi nafkah rumah tangganya”.[8]</p>
<p style="text-align:justify;">ISLAM MENCELA PEMALAS DAN PEMINTA-MINTA</p>
<p style="text-align:justify;">Islam sangat mencela pemalas dan membatasi ruang gerak peminta-minta serta mengunci rapat semua bentuk ketergantungan hidup dengan orang lain. Sebaliknya, Al Qur&#8217;an sangat memuji orang yang bersabar dan menahan diri tidak meminta uluran tangan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup, karena tindakan tersebut akan menimbulkan berbagai macam keburukan dan kemunduran dalam kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah berfirman (artinya) :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. [Al Baqarah : 273].</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ibnul Jauzi berkata: “Tidaklah ada seseorang yang malas bekerja, melainkan berada dalam dua keburukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, menelantarkan keluarga dan meninggalkan kewajiban dengan berkedok tawakkal, sehingga hidupnya menjadi batu sandungan buat orang lain dan keluarganya berada dalam kesusahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, demikian itu suatu kehinaan yang tidak menimpa, kecuali kepada orang yang hina dan gelandangan. Sebab, orang yang bermartabat tidak akan rela kehilangan harga diri hanya karena kemalasan dengan dalih tawakkal yang sarat dengan hiasan kebodohan. Boleh jadi seseorang tidak memiliki harta, tetapi masih tetap punya peluang dan kesempatan untuk berusaha”.[9]</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memberi jaminan surga bagi orang yang mampu memelihara diri tidak meminta-minta. Dari Tsauban, (ia) berkata bahwasannya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apapun kepada seseorang, maka aku akan menjamin dengan surga. Aku berkata: “Saya.” ِMaka ia selama hidupnya tidak pernah meminta-minta kepada seseorang suatu kebutuhan apapun&#8221;. [10]</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang muslim harus berusaha hidup berkecukupan, memerangi kemalasan, semangat dalam mencari nafkah, berdedikasi dalam menutupi kebutuhan, dan rajin bekerja demi memelihara masa depan anak agar mampu hidup mandiri, tidak menjadi beban orang lain. Sebab, pemalas yang menjadi beban orang dan pengemis yang menjual harga diri, merupakan manusia paling tercela dan sangat dibenci Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Ditegaskan dalam sebuah hadits dari Abdullah Ibnu Umar, bahwasannya Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Tidaklah sikap meminta-minta terdapat pada diri seseorang di antara kalian, kecuali ia bertemu dengan Allah sementara di wajahnya tidak ada secuil daging pun&#8221;. [11]</p>
<p style="text-align:justify;">Agama Islam mengajak umatnya agar bersikap mandiri dalam hidup. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengajarkan doa agar kita berlindung dari sifat malas, lemah, tidak berdaya, pengecut, bakhil dan menjadi beban orang lain.  &#8221;Dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah selalu membaca dalam doanya: “Ya, Allah! Aku berlindung diri kepadaMu dari tidak berdaya, malas, pengecut, bakhil, lanjut usia, kekerasan hidup, lalai, melarat, kehinaan, dan kerendahan. Aku berlindung kepadaMu dari kemiskinan, kekufuran, kefasikan, kesesatan, kemunafikan, sum&#8217;ah dan riya&#8217;. Dan aku berlindung kepadaMu dari penyakit tuli, bisu, penyakit kusta, penyakit kulit dan seluruh penyakit yang buruk”.[12]</p>
<p style="text-align:justify;">Sikap malas, hidup yang hanya menjadi beban orang lain dan meminta-minta merupakan perbuatan yang sangat dibenci Islam. Oleh karena itu, seorang muslim harus rajin bekerja dan bersungguh-sungguh berusaha. Meninggalkan anak cucu dalam kondisi berkecukupan lebih baik dari pada mereka hidup terlunta-lunta menjadi beban orang lain, seperti disebutkan dalam firman Allah. (artinya) : &#8220;Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar&#8221;. [An Nisaa’:9].</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Al Baghawi berkata, bahwa yang dimaksud dengan “dzurriyatan dhiafan” adalah anak-anak yang masih kecil, yang dikhawatirkan tertimpa kefakiran.[13]  Ali bin Abu Thalhah berkata, bahwa Abdullah Ibnu Abbas berkata: “Ayat di atas turun untuk seseorang saat menjelang ajalnya berwasiat yang merugikan ahli warisnya. Maka Allah menganjurkan kepada orang yang mendengar wasiat tersebut agar bertakwa kepada Allah dan mengarahkan kepada wasiat yang benar dan lurus. Dan hendaknya orang tersebut prihatin terhadap kondisi ahli warisnya, jangan sampai mereka terlantar dan menjadi beban orang lain sepeninggalnya”.[14]</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, ketika Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqas. Saad bertanya: “Wahai, Rasulullah! Saya orang yang banyak harta, sementara saya tidak punya ahli waris kecuali seorang anak perempuan. Bolehkah saya berwasiat dengan dua pertiga hartaku?” Beliau bersabda,”Jangan!” Sa’ad bertanya,”Dengan setengah hartaku?” Beliau bersabda,”Jangan!” Sa’ad bertanya,”Dengan sepertiga hartaku?” Beliau bersabda,”Boleh dengan sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak,” Kemudian Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya, bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam kekurangan, menjadi beban orang lain. Dan sungguh tidaklah kamu memberi nafkah, kecuali menjadi sedekah buatmu hingga satu suapan yang kamu berikan kepada isterimu.” [15]  Berusaha dengan sungguh-sungguh sangat dianjurkan oleh Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sebagaimana sabda Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam : Bekerjalah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu terjadi pada kamu, maka jangan katakan “seandainya aku melakukan hal ini dan itu, pazti begini”. Namun katakan “Allah telah menetapkan dan apa yang telah Dia kehendaki, maka Dia kerjakan”. Karena, kata “seandainya” itu adalah peluang setan. [HR Muslim]</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa salalm bersabda: &#8220;Seandainya ada seseorang di antara kalian mencari seonggok kayu bakar lalu dipanggul (ke pasar untuk dijual), lebih baik daripada meminta kepada seseorang, terkadang diberi dan terkadang tidak&#8221;.[16]</p>
<p style="text-align:justify;">Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu berkata: “Wahai ahli qira’ah. Berlombalah dalam kebaikan, dan carilah karunia dan rezeki Allah, dan janganlah kalian menjadi beban hidup orang lain”.[17]  Said bin Musayyib berkata: “Barangsiapa berdiam di masjid dan meninggalkan pekerjaan, lalu menerima pemberian yang datang kepadanya, maka (ia) termasuk mengharap sesuatu dengan cara meminta-minta”.[18]</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Qasim Al Khatli bertanya kepada Imam Ahmad: “Apa pendapat anda terhadap orang yang hanya berdiam di rumah atau di sebuah masjid, lalu berkata ‘aku tidak perlu bekerja karena rezekiku tidak akan lari dan pasti datang’?” Maka beliau menjawab: “Orang tersebut bodoh terhadap ilmu. Apakah (ia) tidak mendengarkan sabda Rasulullah : &#8220;Allah menjadikan rezekiku di bawah kilatan pedang (jihad)&#8217; &#8220;[19]  Sahl bin Abdullah At Tustari berkata,”Barangsiapa yang merusak tawakkal, berarti telah merusak pilar keimanan. Dan barangsiapa yang merusak pekerjaan, berarti telah membuat kerusakan dalam Sunnah.”[20]</p>
<p style="text-align:justify;">BEKERJA DALAM PANDANGAN ULAMA SALAF</p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebagian orang menyangka, bahwa sikap tawakkal menafikan berbagai macam bentuk usaha dan ikhtiar. Padahal, hukum bekerja terkadang wajib, sunah, mubah, makruh ataupun haram, tergantung pada hakikat dan tujuan pekerjaan tersebut.  Nabi Muhammad Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, adalah manusia yang paling bertawakkal, namun Beliau tetap bekerja; baik dengan pergi ke medan perang maupun berniaga di pasar untuk mencari nafkah, hingga orang-orang kafir berkomentar sebagaimana firman Allah (artinya): Dan mereka berkata: &#8220;Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia&#8221;. [Al Furqan : 7].[21]  Usaha yang menentukan tegaknya pondasi kehidupan manusia, hukumnya fardhu &#8216;ain. Sedangkan usaha yang menentukan kehidupan secara kolektif, hukumnya fardhu kifayah. Sehingga, seluruh bentuk aktifitas untuk mendirikan perusahaan dan perindustrian yang menjadi penopang sendi ekonomi umat secara kolektif, hukumnya fardhu kifayah.[22]</p>
<p style="text-align:justify;">Usaha dalam Islam dibatasi dengan dua perkara; ikhlas dan ittiba&#8217; (mengikuti Rasulullah). Maka usaha yang dilakukan oleh seorang muslim hanya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah dan dilakukan secara benar sesuai dengan Sunnah Rasulullah. Oleh sebab itu, kebenaran sebuah usaha tentu saja dilihat dari kesesuaian usaha tersebut dengan syariat. Allah tidak akan memberikan pahala pada satu amalan, kecuali ditujukan untuk mengharap ridhaNya.  Sikap zuhud dan tawakal kepada Allah tidak berkonotasi sebuah aksi pengangguran dan penyandaran nasib hidup kepada orang lain. Sebab, segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah bisa merusak aqidah dan akhlak, serta merupakan kebiasaan yang tercela. Tidak ada satu dalil pun yang mengajak umat manusia meninggalkan usaha mencari rezeki dan ikhtiar dengan alasan zuhud dan tawakkal.  Allah tidak melarang hambaNya untuk berusaha, bahkan Allah mencintai segala bentuk usaha asal sesuai dengan kaidah dan prinsip agama. Tidak ada alasan untuk mencela jalur-jalur usaha yang halal, tetapi yang tercela adalah usaha yang haram, atau melalaikan ibadah kepada Allah sebagaimana firman Allah (artinya): &#8220;Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah&#8221;. [An Nur :37].  Imam Ibnul Jauzi berkata,”Sebagian orang salah dalam memahami tawakkal. Mereka menyangka, malas bekerja dan berpangku tangan sebagai bentuk tawakkal. Padahal, tawakkal merupakan perbuatan hati yang tidak menafikan gerakan tubuh untuk berusaha. Jika seorang yang rajin bekerja dianggap tidak bertawakkal, maka para nabi termasuk orang-orang yang tidak bertawakkal. Sementara Nabi Adam bertani, Nabi Nuh dan Zakaria bertukang, Nabi Sulaiman pembuat anyaman dari daun kurma, Nabi Daud pembuat baju perang, Nabi Musa, Syuaib dan Nabi Muhammad penggembala kambing.” [23]</p>
<p style="text-align:justify;">SIKAP SEIMBANG DALAM MENCARI NAFKAH DAN MENUNTUT ILMU</p>
<p style="text-align:justify;">Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk beribadah. Sementara itu, ibadah tidak akan terealisasi kecuali dengan badan yang sehat. Dan badan sehat diperoleh dari makan yang cukup. Maka Allah menjadikan makanan sebagai pelengkap ibadah.[24]  Abu Hamid Al Ghazali berkata,”Semua hamba Allah dituntut bertemu dengan Rabb-nya dengan membawa pahala. Dan tidak mungkin semua itu tercapai, kecuali dengan ilmu dan amal. Adapun dua pilar dasar, yaitu ilmu dan amal, tidak mungkin terwujud kecuali dengan badan sehat. Dan makanan sebagai sarana utama meraih badan sehat; maka Allah berfirman.(artinya) : &#8220;Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221;[Al Mukminun:51].[25]   Ilmu dan amal, dalam pandangan Ahli Sunnah merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Bila dua pilar tersebut telah mengakar dalam pribadi seorang muslim, maka akan terpancarlah hidayah dan ketakwaan sebagai pondasi dasar dan bekal utama meretas usaha dan profesi, sehingga Allah menjadikan ketakwaan sebagai ladang keberkahan dan pintu kesuksesan dalam berbagai bentuk usaha. Menjadi kunci penyelesaian bagi seluruh problem kehidupan, sebagaimana firman Allah  &#8220;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka&#8221;. [Ath Thalaq : 2-3].  Di dalam tafsirnya, Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari seluruh problem kehidupan dan memberi rezki dari arah yang tidak di sangka-sangka. Yakni, dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.”   Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dan ambillah yang baik dalam mencari rezeki (ambil yang halal dan tinggalkan yang haram)”. [HR Al Hakim].</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang muslim yang bertakwa sangat dituntut untuk berlaku seimbang dalam mencari ilmu dan mencari nafkah. Jika kekuatan ilmu dan kekuatan harta bersinergi secara baik, maka akan melahirkan sebuah kekuatan dahsyat dan pengaruh yang positif dalam proses dakwah dan kebangkitan umat. Dengan begitu, segala kemunduran dan kehinaan yang menimpa umat mampu teratasi.  Menurut pandangan Ahli Sunnah wal Jama’ah, tidak ada dikotomi antara mencari ilmu dengan mencari nafkah, bahkan keduanya harus saling mendukung. Oleh sebab itu, tidak benar bila berkembang wacana bahwa orang yang mencari ilmu tidak perlu memikirkan urusan maisyah (mata pencaharian/pekerjaan), dan sebaliknya, orang yang mencari nafkah tidak perlu mengganggu profesinya dengan menuntut ilmu agar tidak merusak kariernya. Hal itu sebuah paradigma yang keliru dan anggapan yang menyesatkan, sebab Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman. (artinya) : &#8220;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.&#8221; [Al Qashash:77].</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat yang mulia di atas memiliki makna, pergunakanlah harta kekayaanmu dan kenikmatanmu yang melimpah, yang telah diberikan kepadamu sebagai pemberian dan karunia Allah untuk menunaikan ketaatan dan kebaikan yang bisa mendekatkan dirimu kepadaNya. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan hubungan biologis, karena Rabb-mu memiliki hak atasmu dan dirimu memiliki hak atasmu. Keluargamu mempunyai hak atasmu, dan kekuatan tubuhmu juga memiliki hak atasmu. Maka, berikanlah masing-masing hak sesuai dengan porsinya.[27]</p>
<p style="text-align:justify;">[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] _______</p>
<p style="text-align:justify;">Footnote</p>
<p style="text-align:justify;">[1]. HR Muslim dalam Kitab Zakat; At Tirmizdi, Ad Darimi dan Ahmad dalam Musnad-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">[2]. Jami&#8217;ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdul Bar, Juz 2, hlm. 26.</p>
<p style="text-align:justify;">[3]. Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, hlm. 282.</p>
<p style="text-align:justify;">[4]. Tafsir Al Qurthubi, Juz 9, hlm. 71. Dan lihat Tafsir Al Baghawi, Juz 8, hlm. 123.</p>
<p style="text-align:justify;">[5]. HR Bukhari (2742), Muslim (1628), Tirmidzi (2116), Nasai dan Ibnu Majah.</p>
<p style="text-align:justify;">[6]. Diriwayatkan Abu Nuaim dalam Al Hilyah (2/286) dan Abu Hamid Al Ghazali dalam Ihya&#8217; (2/62).</p>
<p style="text-align:justify;">[7]. Jami&#8217;ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdil Barr, Juz 2, hlm. 33.</p>
<p style="text-align:justify;">[8]. Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Ishlahul Mal, hlm. 223; Ibnu Abi Syaibah (34606) dan Al Baihaqi dalam Asy Syuab (2/365).</p>
<p style="text-align:justify;">[9]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 303.</p>
<p style="text-align:justify;">[10]. HR Abu Daud. Imam Nawawi berkata, bahwa hadits ini diriwayatkan dengan sanad yang sahih.</p>
<p style="text-align:justify;">[11]. HR Bukhari, Muslim, dan Nasai dalam Sunan-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">[12]. HR Al Hakim dalam Mustadrak, dan beliau berkata: “Hadits ini shahih menurut syarat Imam Bukhari dan Muslim (1944) ,dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (1019)”.</p>
<p style="text-align:justify;">[13]. Tafsir Maalimut Tanzil, Al Baghawi, Juz 2, hlm. 170. Lihat juga tafsir Al Qurthubi, Juz 4, hlm. 35.</p>
<p style="text-align:justify;">[14]. Tafsir Ath Thabari, Juz 4, hlm. 181.</p>
<p style="text-align:justify;">[15]. HR Bukhari (2742), Muslim (1628), At Tirmidzi (2116), An Nasai dan Ibnu Majah.</p>
<p style="text-align:justify;">[16]. Muttafaqun ‘alaih.</p>
<p style="text-align:justify;">[17]. Jami&#8217;ul Bayanul Ilmi wa Fadhlih, Ibnu Abdul Bar, Juz 2, hlm. 35.</p>
<p style="text-align:justify;">[18]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 300.</p>
<p style="text-align:justify;">[19]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 302.</p>
<p style="text-align:justify;">[20]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299. [21]. Tahdzib Syarah Thahawiyah, hlm. 301.</p>
<p style="text-align:justify;">[22]. Mala Yasa’ut Tajir Jahluhu, Prof. Dr. Abdullah Muslih. hlm. 78.</p>
<p style="text-align:justify;">[23]. Talbisul Iblis, Ibnul Jauzi, hlm. 299. [24]. Ahkamul Ath&#8217;imah Fisyariatil Islamiyah, Dr. Abdullah bin Muhammad Ath Thuraiqi, hlm. 30. [25]. Lihat Ihya Ulumuddin, Juz 2/3 dengan tahqiq Al Allamah Zainuddin Al Iraqi.</p>
<p style="text-align:justify;">[26]. Tafsir Ibnu Katsir (4/400). [27]. Lihat Tafsir Ath Thabari</p>
<p style="text-align:justify;">(20/71), Tafsir Al Baghawi (6 / 221) dan Tafsir Ibnu Katsir (5 / 129)</p>
<br />Filed under: <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/akhlaq/'>akhlaq</a>, <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/aqidah/'>aqidah</a>, <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/kajian/'>kajian</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=226&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2010/10/17/kunci-sukses-mengais-rezeki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika Imam Membaca Qunut Shubuh</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2010/05/23/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2010/05/23/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 17:42:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[sumber : http://kangaswad.wordpress.com/2010/05/14/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/ Bagaimana hukumnya orang yang menjadi makmumnya ahlul bid’ah? Apakah diperbolehkan seseorang mendirikan shalat berjamaah di asrama, dengan alasan masjid terdekat dari asrama imam rawatibnya biasanya melakukan ritual bid’ah sedangkan masjid yang lain jaraknya jauh? Misalnya, jika kita berkeyakinan bahwa qunut subuh adalah suatu bid’ah, maka bagaimana hukumnya jika kita menjadi makmumnya imam yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=222&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>sumber : <a href="http://kangaswad.wordpress.com/2010/05/14/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/" target="_blank">http://kangaswad.wordpress.com/2010/05/14/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/</a></p>
<p>Bagaimana hukumnya orang yang menjadi  makmumnya ahlul bid’ah? Apakah diperbolehkan seseorang mendirikan shalat  berjamaah di asrama, dengan alasan masjid terdekat dari asrama imam  rawatibnya biasanya melakukan ritual bid’ah sedangkan masjid yang lain  jaraknya jauh? Misalnya, jika kita berkeyakinan bahwa qunut subuh adalah  suatu bid’ah, maka bagaimana hukumnya jika kita menjadi makmumnya imam  yang selalu mengamalkan qunut subuh, apakah boleh? <em>Jazakallahu  khairan</em></p>
<p>Abu Abdirrahman<br />
Alamat: Jl. Mulyosari, Surabaya<br />
Email: emailkuxxxx@yahoo.com</p>
<p><strong>Al Akh Yulian Purnama menjawab:</strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>, shalat wajib berjama’ah di masjid hukum  asalnya adalah wajib sebagaimana telah dijelaskan oleh Ustadz Kholid  Syamhudi,Lc. <em>Hafizhahullah</em> pada artikel <a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-shalat-berjama%e2%80%99ah-wajib-ataukah-sunnah/" target="_blank">Hukum  Shalat Berjama’ah Wajib Ataukah Sunnah.</a></p>
<p><strong>Kedua</strong>, sebagaimana telah diketahui penanya bahwa  membaca doa qunut pada shalat shubuh secara rutin adalah perkara baru  dalam agama. Meskipun memang sebagian Syafi’iyyah dan Malikiyyah  menganggapnya disyariatkan. Penjelasan mengenai hal ini cukup panjang,  namun ringkasnya, pendapat yang benar adalah bahwa hal tersebut termasuk  perkara baru dalam agama dengan alasan berikut:</p>
<ol>
<li>Praktek membaca Doa Qunut yang dilakukan oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi  Wassallam</em> berdasarkan banyak hadits adalah Qunut Nazilah, yaitu  doa Qunut yang dibaca karena adanya musibah besar yang menimpa kaum  muslimin. Dan Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wassallam</em> mempraktekan hal tersebut tidak hanya pada shalat shubuh, namun pernah  dilakukan pada seluruh shalat fardhu. Dan beliau tidak merutinkan  membaca doa Qunut pada shalat shubuh meskipun memang praktek Qunut  Nazilah yang beliau lakukan paling sering dilakukan ketika shalat  shubuh. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah:وكان هديه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القنوت في  النوازل خاصة ، وترْكَه عند عدمها ، ولم يكن يخصه بالفجر، بل كان أكثر  قنوته فيها
<p>“Petunjuk dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wassallam</em> dalam  masalah Qunut adalah hanya melakukannya jika terjadi nazilah (musibah besar) saja. Dan tidak  melakukannya jika tidak ada nazilah. Tidak pula mengkhususkannya pada shalat shubuh,  walaupun memang beliau paling sering membaca Qunut Nazilah ketika shalat  shubuh (<em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/273)”</li>
<li>Terdapat hadits shahih dari Abu Malik bin Sa’id Al Asy-ja’i  yang tegas menunjukkan bahwa membaca qunut pada shalat shubuh secara  rutin tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam  dan para sahabat:عَنْ أَبِيهِ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ  فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ،  وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ  فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ  النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ  صَحِيحٌ
<p>“<em>Dari ayahku, ia berkata: ‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi  Shallallahu’alaihi Wassallam namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah  shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah  shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah  shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca Qunut,  Aku pernah  shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca Qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara  bid’ah</em>‘” (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, At Tirmidzi. At Tirmidzi  berkata: “Hadits ini hasan shahih”)<br />
Dalam lafadz Ibnu Majah:</p>
<p>قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ  رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ  وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ  أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ</p>
<p>“<em>Abu Malik berkata: ‘Wahai ayah, engkau pernah shalat menjadi  makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan  Ali di kufah selama kurang lebih 5 tahun. Apakah mereka membaca qunut di  shalat shubuh?’. Ayahku berkata: ‘Wahai anakku, itu perkara baru dalam  agama’</em>“</li>
<li>Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi  Shallallahu’alaihi Wassallam membaca qunut di shalat shubuh hingga  wafatnya, telah dijelaskan oleh para ulama bahwa bukan lah maknanya  merutinkan qunut, jika dilihat dari praktek beliau.وَأَمَّا حَدِيثُ أَنَسٍ { مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ  الدُّنْيَا } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَغَيْرُهُ : فَفِيهِ مَقَالٌ ،  وَيُحْتَمَلُ : أَنَّهُ أَرَادَ بِهِ : طُولَ الْقِيَامِ ، فَإِنَّهُ  يُسَمَّى قُنُوتًا
<p>“Adapun  hadits ‘<em>Rasulullah Shallallahu’alaihi Wassallam selalu  qunut di shalat shubuh sampai berpisah dengan dunia</em>‘ Hadits Riwayat  Ahmad dan lainnya. Tentang makna <em>Qunut</em> di sini terdapat  beberapa pendapat. Dan nampaknya maknanya adalah beliau shalat shubuh dengan waktu  berdiri yang lama. Oleh karena itu dalam bahasa arab disebut juga  Qunut” (<em>Syarhu Muntahal Iradat</em>, 45/2)</li>
</ol>
<p><strong>Ketiga</strong>, mengenai shalat dibelakang imam yang  melakukan bid’ah, selama bukan bid’ah yang menyebabkan kekafiran maka  persoalan ini dibagi menjadi 2 bagian:</p>
<p><strong>1. Bolehkah dan sahkah shalatnya?</strong><br />
Untuk menjawab pertanyaan ini, kami bawakan nasehat yang bagus dari  Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali:<br />
“Jika imam membaca doa qunut di shalat shubuh, maka ikutilah dia. Walau anda  sebagai ma’mum berpendapat berbeda. Bahkan jika anda sebagai ma’mum  menganggap shalat sang imam itu tidak sah menurut mazhab anda, namun sah  menurut mazhab sang imam, anda tetap boleh berma’mum kepadanya. Karena  Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> memerintahkan demikian,  beliau bersabda:</p>
<p>يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ  أخطؤوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ</p>
<p>“<em>Shalatlah kalian bersama imam, jika shalat imam itu benar,  kalian mendapat pahala. Jika shalat imam itu salah, kalian tetap  mendapat pahala dan sang imam yang menanggung kesalahnnya</em>” (HR.  Bukhari no.662)<br />
Jika demikian, maka anda tetap boleh shalat bersama imam tersebut.</p>
<p>Demikian juga yang dipraktekan oleh para salaf. Suatu ketika Khalifah  Harun Ar Rasyid pergi berhaji lalu singgah di Madinah, kemudian  berbekam. Kemudian ia bertanya kepada Imam Malik: “Aku baru berbekam,  apakah aku boleh shalat tanpa wudhu lagi?”. Imam Malik menjawab:  “Boleh”. Maka beliau pun mengimami shalat tanpa berwudhu lagi.</p>
<p>Karena menurut mazhab <del datetime="2010-02-19T10:00:55+00:00">Maliki</del> Hanafi, bekam dapat membatalkan wudhu, orang-orang bertanya kepada Abu  Yusuf Al Hanafi: “Bagaimana mungkin aku shalat bermakmum pada Khalifah  Harun Ar Rasyid padahal ia belum berwudhu??”. Abu Yusuf berkata: “<em>Subhanallah</em>…  Ia Amirul Mu’minin!”</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga memiliki pendapat dalam hal ini:  “Jika anda bermakmum pada imam yang memiliki perbedaan pendapat dengan  anda dalam masalah sah atau tidaknya shalat. Lalu anda berpendapat bahwa  shalat yang dilakukannya itu tidak sah, namun ia memiliki hujjah dan  dalil bahwa shalat yang ia lakukan sudah sah, maka anda boleh bermakmum  kepadanya. Kecuali jika sang imam menegaskan bahwa ia belum berwudhu,  misalnya ia berkata: ‘Saya belum berwudhu dan saya akan shalat tanpa  wudhu’. Maka shalatnya tidak sah bagi si imam dan tidak sah pula bagi  anda”.<br />
[Sampai di sini perkataan Syaikh Rabi', dinukil dari <a href="http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=208" target="_blank">http://www.rabee.net/show_fatwa.aspx?id=208]</a></p>
<p>Imam Al Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya juga membuat bab:</p>
<p>باب إِمَامَةِ الْمَفْتُونِ وَالْمُبْتَدِعِ وَقَالَ  الْحَسَنُ صَلِّ وَعَلَيْهِ بِدْعَتُهُ</p>
<p>“Bab berimam kepada orang yang terkena fitnah atau mubtadi. Dan Al  Hasan berkata: ‘Shalatlah bermakmum kepada mereka, sedangkan bid’ah yang  mereka lakukan biarlah mereka yang menanggung’”. Perlu diketahui fiqih  Imam Al Bukhari terdapat pada judul-judul babnya.</p>
<p>Ringkasnya, anda boleh shalat dibelakang imam yang melakukan  kesalahan dalam shalat semisal membaca doa qunut dalam shalat shubuh  atau semacamnya, selama kesalahan tersebut bukan kesalahan yang secara  ijma ulama dapat membatalkan shalat, seperti tidak berwudhu. Namun tetap  disarankan untuk mencari masjid yang imamnya sesuai atau lebih  mendekati sunnah jika memungkinkan.</p>
<p><strong>2. Apa yang harus dilakukan?</strong><br />
Jika seseorang bermakmum dibelakang <a href="http://ustadzkholid.com/tanya-ustadz/fiqih-ibadah/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/" target="_blank">imam  yang membaca doa qunut</a> pada shalat shubuh, yang merupakan bid’ah,  apakah ia ikut membaca doa bersama imam? Ataukah diam saja? Dalam hal  ini terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama.</p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong>, yaitu mengikuti imam membaca doa  qunut, mengingat perintah untuk mengikuti imam. Sebagaimana pendapat Abu  Yusuf Al Hanafi yang disebutkan dalam <em>Fathul Qadiir</em> (367/2):</p>
<p>وَقَالَ أَبُو يُوسُفَ رَحِمَهُ اللَّهُ يُتَابِعُهُ )  لِأَنَّهُ تَبَعٌ لِإِمَامِهِ ، وَالْقُنُوتُ مُجْتَهَدٌ فِيهِ</p>
<p>“Abu Yusuf <em>rahimahullah</em> berpendapat<em> ikut membaca qunut</em>.  Karena hal tersebut termasuk kewajiban mengikuti imam. Sedangkan  membaca qunut adalah ijtihad imam”</p>
<p>Dalam <em>Syarhul Mumthi’ Syarh Zaadul Mustaqni’</em> (45/4) kitab  fiqh mazhab Hambali, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:</p>
<p>وانظروا إلى الأئمة الذين يعرفون مقدار الاتفاق، فقد كان  الإمام أحمدُ يرى أنَّ القُنُوتَ في صلاة الفجر بِدْعة، ويقول: إذا كنت  خَلْفَ إمام يقنت فتابعه على قُنُوتِهِ، وأمِّنْ على دُعائه، كُلُّ ذلك مِن  أجل اتِّحاد الكلمة، واتِّفاق القلوب، وعدم كراهة بعضنا لبعض</p>
<p>“Perhatikanlah para ulama yang sangat memahami pentingnya persatuan.  Imam Ahmad berpendapat bahwa membaca qunut ketika shalat shubuh itu  bid’ah. Namun ia berkata: ‘Jika seseorang shalat bermakmum pada imam  yang membaca qunut maka hendaknya ia mengikuti dan mengamini doanya’.  Ini dalam rangka persatuan, dan mengaitkan hati dan menghilangkan  kebencian diantara kaum muslimin”</p>
<p><strong>Pendapat kedua</strong>, diam dan tidak mengikuti imam ketika  membaca doa qunut, karena tidak harus mengikuti imam dalam kebid’ahan.  Dalam <em>Fathul Qadiir</em> (367/2), kitab Fiqih Mazhab Hanafi,  dijelaskan:</p>
<p>فَإِنْ قَنَتَ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَسْكُتُ  مَنْ خَلْفَهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ رَحِمَهُمَا اللَّهُ .</p>
<p>“Jika imam membaca doa qunut dalam shalat shubuh, sikap makmum adalah diam. Ini  menurut Imam Abu Hanifah dan Muhammad <em>rahimahumallah</em>“</p>
<p>Dalam <em>Al Mubdi’</em> (238/2), kitab fiqih mazhab Hambali  dikatakan:</p>
<p>وذكر أبو الحسين رواية فيمن صلى خلف من يقنت في الفجر أنه  يسكت ولا يتابعه</p>
<p>“Abul Husain (Ishaq bin Rahawaih) membawakan riwayat tentang sahabat  yang shalat dibelakang imam yang membaca qunut pada shalat shubuh dan ia diam“</p>
<p>Namun perkara ini adalah perkara <em>khilafiah ijtihadiyah</em>, anda  dapat memilih pendapat yang menurut anda lebih mendekati kepada  dalil-dalil yang ada. Wallahu Ta’ala A’lam, kami menguatkan pendapat  pertama, yaitu mengikuti imam berdoa qunut mengingat hadits tentang  perintah untuk mengikuti imam meskipun imam melakukan kesalahan selama  tidak disepakati oleh para ulama kesalahan tersebut dapat membatalkan  shalat, sebagaimana telah dibahas di atas.</p>
<p><strong>Yang terakhir</strong>, perlu dicamkan bahwa dalam keadaan  ini anda tetap berkewajiban untuk menghadiri shalat berjama’ah di  masjid. Sebagaimana solusi yang disarankan oleh <em>Al Lajnah Ad Daimah  Lil Buhuts Wal Ifta</em>:</p>
<p>فإذا كان الإمام يسدل في صلاته ويديم القنوت في صلاة الصبح  على ما ذكر في السؤال نصحه أهل العلم وأرشدوه إلى العمل بالسنة ، فإن  استجاب فالحمد لله ، وإن أبى وسهلت صلاة الجماعة وراء غيره صُلِّيَ خلف  غيره محافظةً على السنة ، وإن لم يسهل ذلك صُلِّيَ وراءه حرصاً على الجماعة  ، والصلاةُ صحيحةٌ على كل حال .</p>
<p>“Jika imam melakukan sadl atau merutinkan membaca doa qunut ketika  shalat shubuh, sebagaimana yang anda tanyakan, katakan kepadanya bahwa  para ulama menasehatkan dirinya untuk beramal dengan yang sesuai sunnah.  Jika ia setuju, alhamdulillah. Jika ia menolak, maka bila anda dapat  dengan mudah mencari masjid lain, shalatlah di sana. Dalam rangka  menjaga diri agar senantiasa mengamalkan yang sunnah. Jika sulit untuk  mencari masjid lain, maka anda tetap shalat menjadi makmum imam  tersebut, dalam rangka melaksanakan kewajiban shalat berjama’ah” (<em>Fatawa  Lajnah Ad Daimah</em>, 7/366)</p>
<p><em>Wabillahi At Taufiq</em>.</p>
<p>——-</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br />
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/fiqih/'>fiqih</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=222&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2010/05/23/jika-imam-membaca-qunut-shubuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mana Bukti Cintamu pada Nabi?</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2010/03/04/mana-bukti-cintamu-pada-nabi/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2010/03/04/mana-bukti-cintamu-pada-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 14:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[26 Februari 2010 jam 17:13 Mana Bukti Cintamu pada Nabi? Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=219&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>26 Februari 2010 jam 17:13</div>
</div>
<p><a href="http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=371615609898&amp;id=100000494902956&amp;ref=nf" target="_blank">Mana Bukti Cintamu pada Nabi?</p>
<p></a> Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi akhir zaman, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.</p>
<p>Dengan berbagai macam cara seseorang akan mencurahkan usahanya untuk membuktikan cintanya pada kekasihnya. Begitu pula kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang pun punya berbagai cara untuk membuktikannya. Namun tidak semua cara tersebut benar, ada di sana cara-cara yang keliru. Itulah yang nanti diangkat pada tulisan kali ini. Semoga Allah memudahkan dan memberikan kepahaman.<span id="more-219"></span></p>
<p>Kewajiban Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ</p>
<p>“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.”[1] Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari makhluk lainnya adalah wajib.</p>
<p>Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ</p>
<p>“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab: 6). Syihabuddin Al Alusi rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridho pada umatnya kecuali jika ada maslahat dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa mereka sendiri. Jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.”[2] Oleh karena itu, kecintaan pada beliau mesti didahulukan daripada kecintaan pada diri sendiri.</p>
<p>‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu. Lalu Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata,</p>
<p>لاَ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ</p>
<p>”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Kemudian ’Umar berkata, ”Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, ”Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”[3]</p>
<p>Mengapa Kita Harus Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?</p>
<p>Mencintai seseorang dapat kembali kepada 2 alasan :</p>
<p>Alasan pertama: berkaitan dengan sosok yang dicintai</p>
<p>Semakin sempurna orang yang dicintai, maka di situlah tempat tumbuhnya kecintaan. Sedangkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah manusia yang paling luar biasa dan sempurna dalam akhlaq, kepribadian, sifat dan dzatnya. Di antara sifat beliau adalah begitu perhatian pada umatnya, begitu lembut dan kasih sayang pada umatnya. Sebagaimana Allah Ta’ala mensifati beliau dalam firman-Nya,</p>
<p>لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p>”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)</p>
<p>Alasan kedua: berkaitan dengan faedah yang akan diperoleh jika seseorang mencintai nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara faedah tersebut adalah:</p>
<p>[1] Mendapatkan manisnya iman</p>
<p>Dari Anas radhiyallahu ’anhu , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ</p>
<p>“Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.”[4]</p>
<p>[2] Akan menjadikan seseorang bersama beliau di akhirat</p>
<p>Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,</p>
<p>أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ</p>
<p>“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”[5]</p>
<p>Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).” Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”[6]</p>
<p>[3] Akan memperoleh kesempurnaan iman</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ</p>
<p>“Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya.”[7]</p>
<p>Dengan dua alasan inilah tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.[8]</p>
<p>Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p>Pertama: Mendahulukan dan mengutamakan beliau dari siapa pun</p>
<p>Hal ini dikarenakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan dari Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِى هَاشِمٍ وَاصْطَفَانِى مِنْ بَنِى هَاشِمٍ</p>
<p>“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah yang terbaik dari keturunan Isma’il. Lalu Allah pilih Quraisy yang terbaik dari Kinanah. Allah pun memilih Bani Hasyim yang terbaik dari Quraisy. Lalu Allah pilih aku sebagai yang terbaik dari Bani Hasyim.”[9]</p>
<p>Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siapa pun yaitu apabila pendapat ulama, kyai atau ustadz yang menjadi rujukannya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena perkataan yang lainnya.”[10]</p>
<p>Kedua: Membenarkan segala yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam</p>
<p>Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang. Karena Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)</p>
<p>”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An Najm: 1-4)</p>
<p>Ketiga: Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam</p>
<p>Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah shalawat dan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ</p>
<p>“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.”[11]</p>
<p>Keempat: Ittiba’ (mencontoh) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ</p>
<p>“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.” (QS. Ali Imron: 31)</p>
<p>Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,</p>
<p>اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ</p>
<p>“Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat .”[12]</p>
<p>Kelima: Berhakim kepada ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam</p>
<p>Sesungguhnya berhukum dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</p>
<p>“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)</p>
<p>Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang keluar dari ajaran dan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”[13]</p>
<p>Keenam: Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p>Membela dan menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ</p>
<p>“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hasyr: 8)</p>
<p>Di antara contoh pembelaaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti diceritakan dalam kisah berikut. Ketika umat Islam mengalami kekalahan, Anas bin Nadhr pada perang Uhud mengatakan, ”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan para sahabat dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan kaum musyrik.” Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Anas lalu berkata, ”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” ”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya,” ujar Sa’ad. Anas bin Malik berkata, ”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.”[14]</p>
<p>Bentuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya:</p>
<p>[1] Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum-</p>
<p>Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ</p>
<p>”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.”[15]</p>
<p>Di antara hak-hak para sahabat adalah mencintai dan meridhoi mereka. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p>وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</p>
<p>“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10)</p>
<p>Sungguh aneh jika ada yang mencela sahabat sebagaimana yang dilakukan oleh Rafidhah (Syi’ah). Mereka sama saja mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Malik dan selainnya rahimahumullah mengatakan, “Sesungguhnya Rafidhah hanyalah ingin mencela Rasul. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu jelek, maka berarti sahabat-sahabatnya juga jelek. Jika seseorang mengatakan bahwa orang itu sholih, maka sahabatnya juga demikian.”[16] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Adapun Rafidhah, maka merekalah orang-orang yang sering mencela sahabat Nabi dan perkataan mereka. Hakikatnya, apa yang ada di batin mereka adalah mencela risalah Muhammad.”[17]</p>
<p>[2] Membela para isteri Nabi, para Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna-</p>
<p>Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Siapa saja yang mencela Abu Bakr, maka ia pantas dihukum cambuk. Siapa saja yang mencela Aisyah, maka ia pantas untuk dibunuh.” Ada yang menanyakan pada Imam Malik, ”Mengapa bisa demikian?” Beliau menjawab, ”Barangsiapa mencela mereka, maka ia telah mencela Al Qur’an karena Allah Ta’ala berfirman (agar tidak lagi menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah, pen),</p>
<p>يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p>“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 17)”[18]</p>
<p>Ketujuh: Membela ajaran (sunnah) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam</p>
<p>Termasuk membela ajaran beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan menyebarkannya, menjaganya dari ulah kaum batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil (penyimpangan) kaum yang bodoh, begitu pula dengan membantah syubhat kaum zindiq dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membela panji sunnah ini dengan sabdanya,</p>
<p>نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ</p>
<p>“Semoga Allah memberikan kenikmatan pada seseorang yang mendengar sabda kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Betapa banyak orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.”[19]</p>
<p>Kedelapan: Menyebarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</p>
<p>Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan ajaran (sunnah)nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً</p>
<p>“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”[20] Yang disampaikan pada umat adalah yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya.</p>
<p>Bukti Cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah dengan Berbuat Bid’ah</p>
<p>Sebagaimana telah kami sebutkan di atas bahwa di antara bukti cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menyebarkan sunnah (ajaran) beliau. Oleh karenanya, konsekuensi dari hal ini adalah dengan mematikan bid’ah, kesesatan dan berbagai ajaran menyimpang lainnya. Karena sesungguhnya melakukan bid’ah (ajaran yang tanpa tuntunan) dalam agama berarti bukan melakukan kecintaan yang sebenarnya, walaupun mereka menyebutnya cinta.[21] Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”[22]</p>
<p>Kecintaan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya adalah dengan tunduk pada ajaran beliau, mengikuti jejak beliau, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan serta bersemangat tidak melakukan penambahan dan pengurangan dalam ajarannya.[23]</p>
<p>Contoh cinta Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam yang keliru adalah dengan melakukan bid’ah maulid nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu Idul Fithri dan Idul Adha) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab, hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan ’Idul Abror-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.”[24]</p>
<p>Pandangan Ulama Ahlus Sunnah Tentang Maulid Nabi</p>
<p>[Pertama] Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. … Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya[?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.</p>
<p>Jika dalam maulid terdapat kebaikan,lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah. …”</p>
<p>Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]”[25]</p>
<p>[Kedua] Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”.</p>
<p>Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah). Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.”[26]</p>
<p>Penutup</p>
<p>Cinta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bukanlah dengan merayakan Maulid. Hakikat cinta pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan mentaatinya. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin mentaatinya. Dari sinilah sebagian salaf mengatakan:</p>
<p>لهذا لما كَثُرَ الأدعياء طُولبوا بالبرهان ,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ</p>
<p>Tatkala banyak orang yang mengklaim mencintai Allah, mereka dituntut untuk mendatangkan bukti. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ”Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron: 31).[27] Orang yang cinta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu hanya mau mengikuti ajaran yang beliau syariatkan dan bukan mengada-ada dengan melakukan amalan yang tidak ada tuntunan, alias membuat bid’ah.</p>
<p>Insya Allah, pada kesempatan selanjutnya kita akan membahas kerancuan yang dikemukakan oleh orang-orang yang menyatakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung acara Maulid Nabi. Semoga Allah mudahkan.</p>
<p>Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>Diselesaikan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal 1431 H, di Pangukan-Sleman.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel www.muslim.or.id<br />
[1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/164, Muassasah Al Qurthubah.</p>
<p>[2] Ruhul Ma’ani, Syihabuddin Al Alusi, 16/42, Mawqi’ At Tafaasir.</p>
<p>[3] HR. Bukhari no. 6632.</p>
<p>[4] HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43.</p>
<p>[5] HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639</p>
<p>[6] HR. Bukhari no. 3688.</p>
<p>[7] HR. Muslim no. 44</p>
<p>[8] Pembahasan ini diringkas dari Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.40-46, Hubbun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wa ‘alamatuhu, hal. 13-15. Kami pernah memuat tulisan ini dalam risalah kecil yang berjudul Mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Antara Mencintai dan Melecehkan, diterbitkan oleh Pustaka Muslim, Jumadats Tsaniyah, 1428 H</p>
<p>[9] HR. Muslim no. 2276, Watsilah bin Al Asqo’</p>
<p>[10] I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/7, Darul Jail, 1973.</p>
<p>[11] HR. Tirmidzi no. 3546 dan Ahmad (1/201). At Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shahih</p>
<p>[12] Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perowinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shohih.</p>
<p>[13] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 28/471, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</p>
<p>[14] HR. Bukhari no. 2805, 4048 dan Muslim no. 1903.</p>
<p>[15] HR. Muslim no. 2541.</p>
<p>[16] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7/459, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1406 H.</p>
<p>[17] Minhajus Sunnah An Nabawiyah, 3/463.</p>
<p>[18] Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 568, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1417 H.</p>
<p>[19] HR. Abu Daud no. 3660, At Tirmidz no. 2656, Ibnu Majah no. 232 dan Ahmad (5/183). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat makna hadits ini dalam Faidul Qodir, Al Munawi, 6/370, Mawqi’ Ya’sub.</p>
<p>[20] HR. Bukhari no. 3461</p>
<p>[21] Lihat penjelasan dalam tulisan Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu (yang terdapat dalam kumpulan risalah Huququn Nabi baina Ijlal wal Ikhlal), ‘Abdul Lathif bin Muhammad Al Hasan, hal. 89, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama, 1422 H.</p>
<p>[22] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718</p>
<p>[23] Lihat Mahabbatun Nabi wa Ta’zhimuhu, hal. 89.</p>
<p>[24] Majmu’ Fatawa, 25/298.</p>
<p>[25] As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139</p>
<p>[26] Al Hawiy Lilfatawa Lis Suyuthi, 1/183</p>
<p>[27] Syarh Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, Syaikh Sholih Alu Syaikh, 1/266, Asy Syamilah.</p>
<br />Filed under: <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/akhlaq/'>akhlaq</a>, <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/aqidah/'>aqidah</a>, <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/kajian/'>kajian</a> Tagged: <a href='http://salamislam.wordpress.com/tag/islam/'>islam</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/219/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/219/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/219/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=219&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2010/03/04/mana-bukti-cintamu-pada-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>info kajian</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2010/02/18/info-kajian/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2010/02/18/info-kajian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 14:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[info kajian]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/2010/02/18/info-kajian/</guid>
		<description><![CDATA[insya Allah, kajian islamiyah bersama Ust. Kholid Syamhudi, Lc. Minggu, 21 Februari 2010 Pukul 08.30 &#8211; 13.00 Masjdi Nurussunnah, Bulusan Tembalang Filed under: Uncategorized Tagged: info, info kajian, kajian<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=218&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>insya Allah,<br />
kajian islamiyah bersama Ust. Kholid Syamhudi, Lc.<br />
Minggu, 21 Februari 2010<br />
Pukul 08.30 &#8211; 13.00<br />
Masjdi Nurussunnah, Bulusan Tembalang</p>
<br />Filed under: <a href='http://salamislam.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a> Tagged: <a href='http://salamislam.wordpress.com/tag/info/'>info</a>, <a href='http://salamislam.wordpress.com/tag/info-kajian/'>info kajian</a>, <a href='http://salamislam.wordpress.com/tag/kajian/'>kajian</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=218&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2010/02/18/info-kajian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INFO DAUROH SEMARANG</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/25/info-dauroh-semarang/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/25/info-dauroh-semarang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 16:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[info kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/2009/12/25/info-dauroh-semarang/</guid>
		<description><![CDATA[http://binhambal.files.wordpress.com/2009/12/bagus.jpg?w=432&#38;h=614 NASIHAT BAGI AHLUS SUNNAH,Asy-Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly Pemateri : Ust Zaid Susanto (Ma&#8217;had Jamilurrahman, Jogjakarta) 2 Januari 2010, Pukul 13.300 MASJID AR-RIDHO, Bukit Kencana &#8211; Semarang BETAPA DEKATNYA KEINDAHAN SYURGA Pemateri : Ust Azu Izzi Sesi 1. 1 Januari 2010, Pukul 13.30 Sesi 2. 2 Januari 2010, Pukul 08.30 MASJID AR-RIDHO, Bukit Kencana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=214&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://binhambal.files.wordpress.com/2009/12/bagus.jpg?w=432&amp;h=614" target="_blank">http://binhambal.files.wordpress.com/2009/12/bagus.jpg?w=432&amp;h=614</a></p>
<p>NASIHAT BAGI AHLUS SUNNAH,Asy-Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly<br />
Pemateri : Ust Zaid Susanto (Ma&#8217;had Jamilurrahman, Jogjakarta)<br />
2 Januari 2010, Pukul 13.300<br />
MASJID AR-RIDHO, Bukit Kencana &#8211; Semarang</p>
<p>BETAPA DEKATNYA KEINDAHAN SYURGA<br />
Pemateri : Ust Azu Izzi<br />
Sesi 1. 1 Januari 2010, Pukul 13.30<br />
Sesi 2. 2 Januari 2010, Pukul 08.30<br />
MASJID AR-RIDHO, Bukit Kencana &#8211; Semarang</p>
<br />Posted in Uncategorized Tagged: info kajian <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=214&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/25/info-dauroh-semarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seputar Muharram (1/3)</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/seputar-muharram-13/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/seputar-muharram-13/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 17:14:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[MUHARRAM (SURO) BULAN KERAMAT ? Oleh Ustadz  Abu Nu’aim Al-Atsari http://www.almanhaj.or.id/content/2036/slash/0 Muharram (Suro) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=204&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MUHARRAM (SURO) BULAN KERAMAT ?</p>
<p>Oleh<br />
Ustadz  Abu Nu’aim Al-Atsari<br />
<a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2036/slash/0" target="_blank">http://www.almanhaj.or.id/content/2036/slash/0</a></p>
<p>Muharram (Suro) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak<br />
di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang tokoh keraton Solo. Bahkan katanya : “Pernah ada yang menyelenggarakan<br />
pernikahan di bulan Suro (Muharram), dan ternyata tertimpa musibah!”.<span id="more-204"></span><br />
Maka kita lihat, bulan ini sepi dari berbagai acara. Selain itu, untuk memperoleh kesalamatan diadakan berbagai kegiatan. Sebagian masyarakat mengadakan tirakatan pada malam satu Suro (Muharram), entah di tiap<br />
desa, atau tempat lain seperti puncak gunung. Sebagiannya lagi mengadakan sadranan, berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi aneka lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai kepala kerbau. Mungkin supaya sang ratu pantai selatan berkenan memberikan berkahnya dan tidak mengganggu. Peristiwa seperti ini dapat disaksikan di pesisir pantai selatan seperti Tulungagung, Cilacap dan lainnya.</p>
<p>Acara lain yang menyertai Muharram (Suro) dan sudah menjadi tradisi adalah kirab kerbau bule yang terkenal dengan nama kyai slamet dikeraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga Solo dan sekitarnya, bahkan yang jauhpun rela berpayah-payah. Apa tujuannya ? Tiada lain, untuk ngalap berkah dari sang kerbau, supaya rizki lancar, dagangan laris dan sebagainya. Naudzubillahi min dzalik.<br />
Padahal kerbau merupakan symbol kebodohan, sehingga muncul peribahasa Jawa untuk menggambarkannya : “bodo ela-elo koyo kebo”. Acara lainnya adalah jamasan pusaka dan kirab (diarak) keliling keraton.</p>
<p>Itulah sekelumit gambaran kepercayaan masyarakat khususnya Jawa terhadap bulan Muharram (Suro). Mungkin masih banyak lagi tradisi yang belum terekam disini. Kelihatannya tahayul ini diwarisi dari zaman sebelumnya mulai animisme, dinamisme, hindu dan budha. Ketika Islam datang keyakinan-keyakinan tersebut masih kental menyertai perkembangannya. Bahkan terjadi sinkretisasi (pencampuran). Ini bisa dicermati pada sejarah kerajaan-kerajaan Islam di awal pertumbuhan dan perkembangan selanjutya, hingga dewasa ini ternyata masih menyisakan pengaruh tersebut.</p>
<p>Namun kepentingan kepada Muharram (Suro) ini tidak dimonopoli oleh suku atau bangsa tertentu. Syi’ah umpamanya, -mayoritas di Iran, meskipun di Indonesia sudah meruyak di berbagai sudut kota dan desa-, memiliki keyakinan tersendiri tentang Muharram (Suro). Terutama pada tanggal 10 Muharram, mereka mengadakan acara akbar untuk memperingati dan menuntut bela atas meninggalnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala.<br />
Seperti dikatakan oleh Musa Al-Musawi tokoh ulama mereka : “Belum pernah terjadi sepanjang sejarah adanya revolusi suci yang dikotori kaum Syi’ah dengan dalih mencintai Husain” Perbuatan buruk itu setiap tahun masih terus dilakukan kaum Syi’ah, terutama di Iran, Pakistan, India dan Nabtiyah di Libanon. Peritiwa ini sempat menimbulkan pertikaian berdarah anyara Syi’ah dan Ahlus Sunnah di beberapa daerah di Pakistan yang menelan korban ratusan jiwa yang tidak bersalah dari kedua belah pihak. [Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI hal. 85]</p>
<p>Dikatakan pula : “Orang-orang Syi’ah setiap bulan Muharram memperingati gugurnya Imam Husain di Karbala tahun 61H, peringatan tersebut dilakukan dengan cara berlebih-lebihan. Dari tanggal 1 Muharram sampai<br />
9 Muharram diadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju ke Al-Husainiyah. Peserta pawai hanya mengenakan sarung saja sedang badanya terbuka. Selama pawai mereka memukul-mukul dada dan punggungnya<br />
dengan rantai besi sehingga luka memar. Acara puncak dilakukan dengan melukai kepala terutama dahinya sehingga berlumuran darah. Darah yang mengalir ke kain putih yang dikenakan sehingga tampak sangat mencolok.<br />
Suasana seperti itu membuat mereka yang hadir merasa sedih, bahkan tidak sedikit yang menangis histeris. [Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI, hal. 51]</p>
<p>Mengapa mereka begitu ekstrim ? Karena ziarah ke kuburan Al-Husain merupakan amalan yang mereka anggap paling mulia. Dalam kitab mereka semisal Furu’ul Kafi oleh Al-Kulani, Man La Yahdhuruhul Faqiihu oleh<br />
Ibnu Babawih dan kitab lainnya, diriwayatkan : “… Barangsiapa mendatangi kubur Al-Husain pada hari Arafah dengan mengakui haknya maka Allah akan menulis baginya seribu kali haji mabrur, seribu kali umrah<br />
mabrur dan seribu kali peperangan bersama Nabi yang diutus dan imam yang adil”. Dalam kitab Kamiluzaroot dan Bahirul Anwar disebutkan “<br />
Ziarah kubur Al-Husain merupakan amalan yang paling mulia”, riwayat lainnya, “Termasuk amalan yang paling mulia adalah ziarah kubur Al-Husain”. Bahkan Karbala itu lebih mulia dibanding Makkah Al-Mukaramah. Karena Al-Husain dikuburkan di disana. [Lihat Ushul Madzhab Asy-Syiah Al-Imamiyah Al-Itsna Asyriyah Dr Nashir Al-Qifari, hal. 460-464]</p>
<br />Posted in aqidah Tagged: hukum islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=204&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/seputar-muharram-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seputar Muharram (3/3)</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/koreksi-terhadap-kepercayaan-masyarakat-seputar-muharram-suro/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/koreksi-terhadap-kepercayaan-masyarakat-seputar-muharram-suro/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 17:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[KOREKSI TERHADAP KEPERCAYAAN MASYARAKAT SEPUTAR MUHARRAM (SURO) Telah dipaparkan diatas (lihat: http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/muharram-dalam-pandangan-islam/ &#8211; pen), keyakinan sebagian masyarakat seputar Muharram (Suro). Benarkah keyakinan seperti itu ? Jawabnya : Keyakinan di atas adalah salah. Karena mereka menyandarkan nasib mereka, bahagia dan celaka kepada masa, waktu. Padahal waktu atau masa tidak kuasa memberikan apa-apa. Jadi mereka telah jatuh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=202&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KOREKSI TERHADAP KEPERCAYAAN MASYARAKAT SEPUTAR MUHARRAM (SURO)</p>
<p>Telah dipaparkan diatas (lihat: <a href="../2009/12/21/muharram-dalam-pandangan-islam/">http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/muharram-dalam-pandangan-islam/</a> &#8211; pen), keyakinan sebagian masyarakat seputar Muharram (Suro). Benarkah keyakinan seperti itu ? Jawabnya : Keyakinan di atas adalah salah. Karena mereka menyandarkan nasib mereka, bahagia dan celaka kepada masa, waktu. Padahal waktu atau masa tidak kuasa memberikan apa-apa. Jadi mereka telah jatuh ke dalam perkara yang di haramkan atau kesyirikan. Allah mengkhabarkan keyakinan orang-orang kafir dan orang-orang musyrikin.<span id="more-202"></span></p>
<p>“Artinya : Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup, tidak ada yang membinasakan kita selain masa. Dan sekali-kali mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga” [Al-Jatsiyah : 23]</p>
<p>Orang-orang kafir tersebut mengingkari adanya hari kiamat, mati hidup mereka waktulah yang menentukan. Bahagia, celaka dan perputaran hidup mati mereka berjalan seiring dengan bergesernya waktu. Tidak disadari<br />
mereka telah mencaci masa. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Allah Ta’ala berfirman : “Manusia menyakiti Aku, dia mencaci maki masa, padahal Aku adalah (pemilik dan pengatur masa) Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti” [Bukhari 4826, Muslim<br />
2246]</p>
<p>Imam Al-Baghawi berkata : “Makna hadits : Dahulu orang-orang Arab terbiasa mencela masa apabila tertimpa musibah. Mereka mengatakan : “Makna tertimpa masa bencana”. Maka jika mereka menyandarkan musibah<br />
yang menimpa kepada masa, berarti mereka telah mencaci pengatur masa itu, yang tentunya adalah Allah. Karena pengatur urusan yang mereka lakukan itu pada hakekatnya adalah Allah. Oleh karena itu mereka<br />
dilarang mencela masa. [Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid, hal. 51]</p>
<p>Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam Al-Qoulus Sadid mengatakan : “Pencelaan kepada masa ini banyak terjadi pada masa jahiliyah. Kemudian diikuti oleh orang-orang fasik, gila dan bodoh. Jika perputaran masa<br />
berlangsung tidak sesuai dengan harapan mereka mulailah mereka mencelanya, bahkan tidak jarang melaknatnya. Semua ini timbul karena tipisnya agama mereka dan karena parahnya kedunguan dan kebodohan.<br />
Dikarenakan masa itu tidak mempunyai peranan apa-apa dalam menentukan nasib. Sebaliknya, justru masa itulah yang diatur. Kejadin-kejadian yang terjadi dalam rentang waktu, merupakan pengaturan Allah yang Maha<br />
Perkasa lagi Maha Bijaksana. Oleh karena itu jika masa dicerca berarti mencaci pengaturnya” [Al-Qoulus Sadid hal. 146]</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata : “Mencela masa terbagi menjadi tiga macam. Yang kedua yaitu pencelaan kepada masa disertai keyakinan bahwa masa itu merupakan penentu. Masa itulah yang menentukan perkara menjadi baik atau jelek. Ini adalah syirik besar. Karena orang tadi berkeyakinan adanya pencipta selain Allah denan menyandarkan peristiwa-peristiwa kepada selainNya. Setiap orang yang berkeyakinan bahwa ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sama halnya dengan orang yang berkeyakinan adanya ilah selain Allah yang pantas untuk disembah, ini juga kafir. Yang ketiga ; pencelaan terhadap masa namun tidak disertai keyakinan bahwa masa itu merupakan penentu. Tetapi Allah-lah yang mengaturnya. Hanya saja dia mencelanya disebabkan pada masa itulah terjadi peristiwa yang tidak dia senangi. Pencelaan ini<br />
diharamkan, namun tidak sampai pada kesyirikan. Hal itu lantaran pencelaan kepada masa tidak terlepas dari dua kemungkinan. Jika pencelaan itu disertai keyakinan bahwa masa itu merupakan penentu maka ini syirik. Jika tidak demikian, maka pada hakekatnya pencelaan itu tertuju kepada Allah, karena Allah-lah yang mengatur masa tersebut, menjadi baik atau jelek. Maka ini diharamkan” [Al-Qoulul Mufid Ala Kitabit Tauhid, hal. 351-352]</p>
<p>Oleh karenanya keyakinan bahwa bulan Muharram (Suro) merupakan bulan keramat atau petaka, tidak terlepas dari dua hal bisa haram atau jatuh ke dalam kesyirikan. Belum lagi acara-acara yang menyertainya semisal<br />
nyadran ke pantai selatan, jamasan pusaka, kirab kerbau untuk dimintai berkahnya. Tidak diragukan lagi semua itu merupakan syirik besar.<br />
Demikian pula keyakinan Syi’ah, sebagaimana telah dikemukakan diatas (lihat: <a href="http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/seputar-muharram-13/">http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/seputar-muharram-13/</a> -pen). Semua itu merupakan cerminan dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) mereka terhadap imamnya. Dan ini tidak aneh karena hal itu sudah<br />
menjadi tradisi mereka. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang bersikap ghuluw kepada orang shalih, sabdanya. “Artinya : Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah (masjid)” [Hadits Riwayat Bukhari 435, Muslim 531]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi kabar tentang gereja yang ada di Habasyah (Ethiopia), dengan aneka ornamennya, lantas beliau bersabda. “Artinya : Mereka itu, apabila ada orang shalih meninggal, mereka<br />
bangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu gambar-gambar (patung-patung). Mereka itulah makhluk yang paling jelek disisi Allah” [Hadits Riwayat Bukhari 427 Muslim 528]</p>
<p>Diantara perkara bathil yang terdapat pada bulan Muharram, seperti dituturkan oleh Ibnul Qayyim : “Diantara hadits-hadits yang bathil adalah hadits tentang memakai celak pada hari Asyura, berhias, banyak berinfak kepada keluarga, shalat dan amalan-amalan lainnya yang mempunyai fadhilah. Padahal tidak ada satupun hadits yang shahih berkaitan dengan amalan tadi. Hadits-hadits yang shahih hanya berkisar mengenai puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam. Selain itu semuanya bathil.</p>
<p>Termasuk perkara yang bathil, menjadikan Asyura sebagai hari penyiksaan dan kesedihan. Ini adalah bid’ah dan mungkar. Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif mengatakan : “Adapun dijadikannya hari Asyura sebagai acara jamuan makan seperti dilakukan oleh Syi’ah Rafidhah, karena untuk memperingati terbunuhnya Al-Husain bin Ali, maka ini termasuk amalan orang yang amalannya sia-sia sedangkan dia menyangka telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak memerintahkan untuk menjadikan hari dimana para nabi tertimpa musibah dan kematiannya sebagai jamuan makan, apalagi orang selain mereka?!” [Durusun Aamun, Abdul Malik Al-Qasim hal. 11-12].</p>
<p>Bila pada bulan haram amalan shalih dibalas dengan berlipat demikian pula balasan bagi perbuatan maksiat, juga berlipat. Allahu a’lam<br />
[Disalin dari Buletin Dakwah Al-Furqon Edisi 6 Th 1 Muharram<br />
1422/Maret-April 2002. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon,<br />
Alamat Ponpes Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu Gresik]</p>
<br />Posted in aqidah Tagged: hukum islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/202/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/202/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/202/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=202&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/koreksi-terhadap-kepercayaan-masyarakat-seputar-muharram-suro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seputar Muharram (2/3)</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/muharram-dalam-pandangan-islam/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/muharram-dalam-pandangan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 17:04:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=200</guid>
		<description><![CDATA[MUHARRAM DALAM PANDANGAN ISLAM [1]. Muharram Adalah Bulan Yang Mulia Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman “Artinya : Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=200&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MUHARRAM DALAM PANDANGAN ISLAM<br />
[1]. Muharram Adalah Bulan Yang Mulia</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  “Artinya : Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” [At-Taubah : 36]<span id="more-200"></span></p>
<p>Imam Ath-Thabari berkata : “Bulan itu ada dua belas, empat diantaranya merupakan bulan haram (mulia), dimana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut. Sampai seandainya ada seseorang bertemu dengan orang yang membunuh ayahnya maka dia tidak akan menyerangnya. Bulan empat itu adalah Rajab Mudhor, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dulqqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dengan ini nyatalah khabat-khabar yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.</p>
<p>Kemudian At-Thabari meriwayatkan beberapa hadits, diantaranya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.  “Artinya : Wahai manusia, sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaan ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dan sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan haram, pertamanya adalah Rajab Mudhor, terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban, kemudian Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram”  Dan ini merupakan perkataan mayoritas ahli tafsir {Jami’ul Bayan 10/124-125]</p>
<p>Imam Al-Qurthubi berkata : “Pada ayat ini terdapat delapan permasalahan. Yang keempat : Bulan haram yang disebutkan dalam ayat adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab yang terletak antara Jumadal Akhir dan Sya’ban. Dinamakan Rajab Mudhor, karena Robi’ah bin Nazar, mereka mengharamkan bulan Rajab itu sendiri”. Kedelapan : “Allah menyebut secara khusus empat bulan ini dan melarang perbuatan dzolim pada bulan-bulan tersebut sebagai pemuliaan, walaupun perbuatan dzolim itu juga dilarang pada setiap waktu, seperti firman Allah.  “Artinya : Maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji” [Al-Baqarah : 197]  Ini menurut mayoriyas ahli tafsir Maksudnya janganlah kalian berbuat kedholiman pada empat bulan tersebut. [Al-Jami Li Ahkamil Qur’an 4/85-87]</p>
<p>Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata : “Empat bulan tersebut adalah Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram. Dinamakan haram karena kemuliaan yang lebih dan diharamkannya peperangan pada bulan tersebut” [Tatsiru Karimir Rohmah Fi Tafsiri Kalamil Mannan hal, 296]</p>
<p>Imam Al-Baghawi berkata : “Janganlah kalian berbuat dzalim pada semua bulan (dua belas bulan) tersebut dengan melakukan kemaksiatan dan melalaikan kataatan”. Ada yang berpendapat bahwa kalimat “fiihinna” maksudnya adalah empat bulan haram tersebut. Qotadah berkata : “Amalan shalih pada bulan haram pahalanya sangat agung dan perbuatan dholim di dalamnya merupakan kedholiman yang besar pula dibanding pada bulan selainnya, walaupun yang namanya kedholiman itu kapanpun merupakan dosa yang besar”.</p>
<p>Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kalian berbuat dholim pada diri kalian, yang dimaksud adalah menghalalkan sesuatu yang haram dan melakukan penyerangan”. Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata : “Janganlah kalian menghalalkan sesuatu yang haram dan mengharamkan yang halal, seperti perbuatan orang-orang musyrik yaitu mengundur-undurkan bulan haram (yaitu pada bulan Safar)’ [Ma’alimut Tanzil 4/44-45]</p>
<p>Imam Bukhari ketika menafsirkan ayat di atas (At-Taubah : 36) membawakan suatu hadits.  “Artinya : Dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda : “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaan ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan haram, tiga bulan berurutan yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban” [Hadits Riwayat Bukhari : 4662]</p>
<p>Imam Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan : “Kaum muslimin telah sepakat bahwa empat bulan haram seperti termaktub dalam hadits, tetapi mereka berselisih cara mengurutkannya. Sekelompok penduduk Kufah dan Arab mengurutkan : Muharram, Rajab, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah, agar empat bulan tersebut terkumpul dalam satu tahun. Ulama Madinah, Basrah dan mayoritas ulama mengurutkan, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, tiga berurutan dan satu bulan tersendiri (Rajab). Inilah pendapat yang benar sebagaimana tertera dalam hadits-hadits yang shahih,diantaranya hadits yang sedang kita perbincangkan.Oleh karenanya hal ini lebih sesuai (memudahkan) manusia untuk melakkan thawaf pada semua buan haram tersebut. [10/319-320]</p>
<p>Termasuk kemuliaan bulan-bulan haram adalah dilarangnya peperangan pada bulan tersebut. Hanya saja larangan ini di-mansukh (dihapus) hukumnya menurut jumhur ulama. Karena di dalam Islam peperangan itu terbagi menjadi dua, diijinkan dan dilarang. Peperangan yang dijinkan dibolehkan bila adanya sebab. Sedangkan peperangan yang haram itu dilarang kapan saja. Maka tidak ada lagi keistimewaan bagi bulan-bulan haram kecuali sebatas kemulyaan yang sudah ditentukan pada hari-hari sebelumnya yaitu terbatas pada waktu-waktu yang utama.</p>
<p>Imam Al-Hasan Al-Bashri mengatakan : “Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram dan menutupnya juga dengan bulan yang haram. Tidak ada bulan yang paling mulya disisi Allah setelah Ramadhan (selain bulan-bulan haram ini, -pen)”.  Pada bulan Muharram ini terdapat hari yang pada hari itu terjadi peristiwa yang besar dan pertolongan yang nyata, menangnya kebenaran mengalahkan kebathilan, dimana Allah telah menyelamatkan Musa ‘Alaihis sallam dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Hari tersebut mempunyai keutamaan yang agung dan kemuliaan yang abadi sejak dulu. Dia adalah hari kesepuluh yang dinamakan Asyura. [Durusun ‘Aamun, Abdul Malik Al-Qasim, hal.10]</p>
<p>[2]. Disyariatkan Puasa Asyura</p>
<p>Berdasarkan hadits-hadist berikut ini.  “Artinya : Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa Asyura, tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, maka bagi siapa yang ingin berpuasa puasalah, dan siapa yang tidak ingin, tidak usah berpuasa” [Hadits Riwayat Bukhari 2001]  “Artinya : Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka mengatakan :”Hari ini adalah hari yang agung dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan pasukan Fir’aun, lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Saya lebih berhak atas Musa dari pada mereka”, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu” [Hadits Riwayat Bukhari 3397]</p>
<p>Keutamaan Puasa Asyura “Artinya : Ibnu Abbas Radhiyalahu anhu ditanya tentang puasa Asyura, jawabnya : “Saya tidak mengetahui bahwa Rasulullah puasa pada hari yang paling dicari keutamaannya selain hari ini (Asyura) dan bulan Ramadhan” [Hadits Riwayat Bukhari 1902, Muslim 1132]</p>
<p>Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu, berdasarkan hadits berikut.  “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura, jawabnya : “Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu” [Hadits Riwayat Muslim 1162, Tirmidzi 752, Abu Daud 2425, Ibnu Majah 1738, Ahmad 22031]</p>
<p>Asyura Adalah Hari Kesepuluh  Berdasarkan hadits berikut. : &#8220;Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara”, Maka beliau bersabda : “Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan”. Ibnu Abbas berkata : “Tahun berikutnya belum datang Rasulullah keburu meninggal” [Hadits Riwayat Muslim 1134, Abu Daud 2445, Ahmad 2107]</p>
<p>Imam Nawawi berkata : “Jumhur ulama Salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari Asyura adalah hari kesepuluh. Yang berpendapat demikian diantaranya adalah Sa’id bin Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan banyak lagi. Pendapat ini sesuai dengan (dzahir) teks hadits dan tuntutan lafadnya. [Syarah Shahih Muslim 9 hal. 205]  Hanya saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk berpuasa hari kesembilan sebagai penyelisihan terhadap ahlul kitab, setelah dikhabarkan kepada beliau bahwa hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara. Oleh karena itu Imam Nawawi berkata : “ Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berpendapat ; Disunnahkan untuk berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa hari kesepuluh serta berniat untuk puasa hari kesembilan. Ulama berkata : “Barangkali sebab puasa hari kesembilan bersama hari kesepuluh adalah agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi jika hanya berpuasa hari kesepuluh saja. Dan dalam hadits tersebut memang terdapat indikasi ka arah itu” [Syarah Shahih Muslim 9 hal. 205]</p>
<p>Al-Allamah Muhammad Shidiq Hasan Khan berkata : “Mayoritas ulama menyunnahkan untuk berpuasa pada hari sebelumnya” [Sailul Jarar Juz 2 hal. 148]  Namun dalam masalah ini ulama berselisih. Selain ada yang berpendapat seperti diatas, sebagian ulama berpendapat hendaknya berpuasa satu hari sebelum dan sesudahnya berdasarkan hadits.  “Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berpuasalah hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi, (dengan) berpuasalah hari sebelumnya dan sesudahnya” [Hadits Riwayat Ahmad 2155]Seperti dikemukakan oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 2 hal.76 dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4 hal. 772.</p>
<p>Hanya saja hadits tersebut di dhoifkan oleh beberapa ulama seperti Imam Syaukani dalam Nailul Author 2 hal. 552. Kata beliau : “Riwayat Ahmad ini dho’if mungkar, diriwayatkan dari jalan Dawud bin Ali dari bapaknya, dari kakeknya. Ibnu Abi Laila juga meriwayatkan dari Dawud bin Ali ini” Al-Mubarakfuri menukil perkataan Imam Syaukani ini dalam Tuhfatul Ahwadzi 3 hal. 383. Imam Al-Albani juga mendho’ifkannya dalam ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Musthofa Al-Adzami dalam tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah juz 3 hal.290. Syaikh Syu’aib dan Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq kitab Zadul Ma’ad 2 hal. 69.Maka yang rajih adalah pendapat pertama yaitu disunnahkan untuk berpuasa satu hari sebelumnya.</p>
<p>Kesimpulannya bahwa bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya apabila kaum muslimin mempunyai anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan keramat. Sehingga menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan melakukan acara-acara cerminan dari keyakinan mereka yang keliru. Akibatnya dosa yang disandang semakin banyak karena dilakukan pada bulan yang mulia.</p>
<br />Posted in aqidah Tagged: hukum islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/200/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/200/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/200/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=200&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/21/muharram-dalam-pandangan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pergaulan Suami Istri</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/19/pergaulan-suami-istri/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/19/pergaulan-suami-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 18:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Isyratun Nisa`. Posted in akhlaq<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=198&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil">Isyratun Nisa`</a>.</p>
<br />Posted in akhlaq  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=198&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/19/pergaulan-suami-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Derajat Hadist Al Waqi&#8217;ah</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/06/derajat-hadist-al-waqiah/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/06/derajat-hadist-al-waqiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 14:43:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[hadist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Dari Ibnu Mas’ud radiallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al Waqiah setiap malam, maka tidak akan ditimpakan kefakiran kepadanya selama-lamanya. Ibnu Mas’ud radiallahu anhu pun menyuruh anak-anak perempuannya agar membaca surat ini setiap malam.” (HR. Baihaqi) Hadits di tersebut dikeluarkan oleh al Harits bin Abu Usamah dalam kitab Musnad-nya, no. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=193&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Ibnu Mas’ud radiallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, “Barangsiapa membaca surat Al Waqiah setiap malam, maka tidak akan ditimpakan kefakiran kepadanya selama-lamanya. Ibnu Mas’ud radiallahu anhu pun menyuruh anak-anak perempuannya agar membaca surat ini setiap malam.” (HR. Baihaqi)<span id="more-193"></span></p>
<p>Hadits di tersebut dikeluarkan oleh al Harits bin Abu Usamah dalam kitab Musnad-nya, no. 178, dikeluarkan pula oleh Ibnu Sunniy dalam kitab Amalul Yaum wal Lailah, no. 674, dikeluarkan pula oleh Ibnu lal dalam Hadits-nya, I/116, dikeluarkan pula oleh Ibnu Bisyron dalam Al ‘Amali, I/38/20, dikeluarkan juga oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan selainnya. Semuanya berasal dari jalan Abu Syuja’ dari Abu Thoyyibah dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu’anhu…</p>
<p><strong>Keterangan </strong></p>
<p>Hadits ini lemah karena dalam silsilah perowinya ada seorang yang lemah.</p>
<p>Al Imam adz Dzahabiy rahimahullah berkata,” Abu Syuja’ adalah seorang yang tidak jelas, tidak dikenal. Demikian juga ia meriwayatkan dari Abu Thayyibah, siapa Abu Thayyibah itu?” (maksudnya dia adalah perowi yang tidak dikenal juga)</p>
<p>Al Munawi rahimahullah dalam Fathul Qadir berkata,” Imam Az Zaila’I engatakan bahwa ada perowi yang riwayatnya banyak cacat dari berbagai sisi. Pertama riwayatnya terputus sebagaimana dijelaskan oleh Imam ad Daruquthni dan lainnya. Kedua isi haditsnya munkar sebagaimana dijelaskan Imam Ahmad. Ketiga para adalah orang – orang yang lemah sebagaimana dikatakan oleh Ibnu jazari. Keempat sungguh hadits ini berguncang dan telah sepakat atas kelemahan hadits ini di antaranya adalah Imam Ahmad, Imam Abu Hatim ar Razi’, putranya, Imam ad Daruquthni, Al Baihaqi dan selainnya…”</p>
<p>(diringkas dari buku Silsilah Adh Dha’ifah no. 289)</p>
<p>Kemudian hadits lainnya adalah…</p>
<p><em>” Barangsiapa yang membaca surat al waqi’ah setiap malam maka dia tidak akan jatuh miskin selamanya., dan barangsiapa setiap malam membaca Surat al Qiyamah maka dia akan berjumpa dengan Allah di hari kiamat sedangkan wajahnya bersinar layaknya rembulan di malam purnama.”</em></p>
<p><strong>Keterangan</strong></p>
<p>Hadits di atas adalah PALSU / MAUDHU’ yang dikeluarkan oleh Ad Dailami dari jalan Ahmad bin Umar al Yamami dengan sanadnya sampai Ibnu ‘Abbas radliyallahu’anhuma dan disebutkan oleh Al Imam As Suyuthi dalam Dzailul Ahadits al Maudhu’ah no. 177. Imam Ahmad berkata,” Ahmad al Yamami adalah rowi yang kadzdzab (yang suka berdusta).”</p>
<p>(dikutip dari buku Silsilah Adh Dha’ifah no. 290)</p>
<p>Diambil dari majalah AL FURQON edisi 07 th ke-8 1430H / 2009M hal. 04</p>
<br />Posted in hadist  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/salamislam.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/salamislam.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/salamislam.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/salamislam.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/193/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/193/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/193/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&amp;blog=3548609&amp;post=193&amp;subd=salamislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/12/06/derajat-hadist-al-waqiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
