<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>As Salam</title>
	<atom:link href="http://salamislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salamislam.wordpress.com</link>
	<description>Pojok Renungan, Pembelajaran, Kajian tentang Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Sep 2009 17:10:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='salamislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/a9581252abd36693725d3f77c7633588?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>As Salam</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>WASPADALAH TERHADAP PERANGKAP RIYA..!</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/09/17/waspadalah-terhadap-perangkap-riya-2/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/09/17/waspadalah-terhadap-perangkap-riya-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 17:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah
IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA [1]
Apa syarat diterimanya amal?
Sebelum anda melangkah satu langkah –wahai saudaraku muslim- hendaklah anda mengetahui jalan untuk merengkuh keselamatanmu. Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=165&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh</p>
<p>Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah</p>
<p>IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA [1]<br />
Apa syarat diterimanya amal?<br />
Sebelum anda melangkah satu langkah –wahai saudaraku muslim- hendaklah anda mengetahui jalan untuk merengkuh keselamatanmu. Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata di dunia dan siksaan di akhirat. [2]</p>
<p>Maka, sebelum memulai semua amalan, hendaklah anda mengetahui syarat diterimanya amal. Yaitu harus terpenuhi dua perkara penting pada setiap amalan. Jika salah satu tidak tercapai, akibatnya amalan seseorang tidak ada harapan untuk diterima. Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua : Amalan itu telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau dijelaskan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, dan mengikuti Rasulullah dalam pelaksanaannya.</p>
<p>Jika salah satu dari dua syarat ini rusak, perbuatan yang baik tidak masuk kategori amal shalih dan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernyataan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala.</p>
<p>“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi : 110]</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar amal yang dikerjakan ialah amalan shalih, yaitu amal perbuatan yang sesuai dengan aturan syari’at. Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang yang menjalankannya supaya mengikhlaskan amalan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak mencari pahala atau pamrih dari selain-Nya dengan amalan itu.</p>
<p>Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya ; “Dua perkara ini merupakan rukun diterimanya suatu amalan. Yaitu, amalan itu harus murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan serupa juga diriwayatkan Al-Qadhi Iyadh rahimahullah dan lainnya” [Tafsir surah Al-Kahfi].</p>
<p>PERINTAH IKHLAS, LARANGAN BERBUAT RIYA DAN SYIRIK [3]<br />
Ketahuilah, wahai saudaraku muslim, bahwa semua amalan pasti terjadi dengan niat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Sesungguhnya semua amalan ini terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan” [4]</p>
<p>Dan dalam amal itu harus mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [Al-Bayyinah : 5]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.</p>
<p>“Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” [Ali-Imran : 29]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memperingatkan bahaya dari berbuat riya’, dalam firman-Nya.</p>
<p>“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu” [Az-Zumar : 65]</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia mneyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [HR Muslim, no. 2985]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat” [5]</p>
<p>RIYA DAN JENIS-JENISNYA [6]<br />
Di antara jenis riya’ ialah sebagi berikut.</p>
<p>1). Riya Yang Berkaitan Dengan Badan<br />
Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, untuk menampakkan bahwa ia rajin berpuasa.</p>
<p>2). Riya Dari Sisi Pakaian<br />
Misalnya, membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai orang alim.</p>
<p>3). Riya Dengan Perkataan<br />
Umumnya, riya’ seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasihat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berdiskusi dan melakukan perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara. Semua itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu’ (kepada Allah, pent).</p>
<p>4). Riya’ Dengan Perbuatan<br />
Seperti riya’nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikian lama, memanjangkan ruku, sujud dan menampakkan kekhusyu’an, riya’ dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, shadaqah dan semacamnya.</p>
<p>5). Riya’ Dengan Kawan-Kawan Dan Tamu-Tamu<br />
Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”.</p>
<p>PERKARA YANG DISANGKA RIYA DAN SYIRIK, PADAHAL BUKAN !</p>
<p>1). Pujian Manusia Untuk Seseorang Terhadap Perbuatan Baiknya<br />
Dari Abu Dzar, dia berkata : Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya!” Beliau bersabda : “itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin” [HR Muslim, no. 2642, Pent)</p>
<p>2). Giatnya Seorang Hamba Melakukan Ibadah Pada Saat Dilihat Oleh Orang-Orang Yang Beribadah<br />
Al-Maqdisi rahimahullah berkata : Terkadang seseorang bermalam bersama orang-orang yang melaksanakan shalat tahajjud, lalu mereka semua melakukan shalat di sebahagian besar waktu malamnya, sedangkan kebiasaan orang itu melakukan shalat malam satu jam, sehingga ia pun menyesuaikan dengan mereka. Atau mereka berpuasa, lalu ia pun berpuasa. Seandainya bukan karena orang-orang itu, semangat tersebut tidak muncul.</p>
<p>Mungkin ada seseorang yang menyangka bahwa (perbuatan) itu merupakan riya’, padahal tidak mutlak demikian. Bahkan padanya terdapat perincian, bahwasanya setiap mukmin menyukai beribadah kepada Allah Ta’ala, tetapi terkadang banyak kendala yang menghalanginya. Dan kelalaian telah menyeretnya, sehingga dengan menyaksikan orang lain itu, maka kemungkinan menjadi faktor yang menyebabkan hilangnya kelalaian tersebut, kemudian ia dapat menguji urusannya itu, dengan cara menggambarkan orang-orang lain itu berada di suatu tempat yang dia dapat melihat mereka, namun mereka tidak dapat melihatnya. Jika dia melihat jiwanya ringan melakukan ibadah, maka itu untuk Allah. Jika jiwanya merasa berat, maka keringanan jiwanya di hadapan orang banyak itu merupakan riya’. Bandingkan (perkara lainnya) dengan ini” [7]</p>
<p>Aku katakan :<br />
Kemalasan seseorang ketika sendirian datang masuk dalam konteks sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“(Sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri), sedangkan semangatnya masuk ke dalam bab melaksanakan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“(Hendaklah kamu menetapi jama’ah) [8]</p>
<p>3). Membaguskan Dan Memperindah Pakaian, Sandal Dan Semacamnya<br />
Di dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.</p>
<p>“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?)”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” [HR Muslim no. 2749, Pent]</p>
<p>4). Tidak Menceritakan Dosa-Dosanya Dan Menyembunyikan<br />
Ini merupakan kewajiban menurut syari’at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatan-kemaksiatan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya, Pent), lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya” [HR Al-Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990, Pent]</p>
<p>Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, (dan) bukan di sini perinciannya. Di antaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta’ala. Barangsiapa menyangka bahwa menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya’ dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.</p>
<p>5). Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya<br />
Al-Maqdisi berkata : “Yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapaun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya, Pent)” [9]</p>
<p>Demikian, beberapa penjelasan berkaitan dengan riya’. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita semua dari sifat buruk ini, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam beramal.</p>
<p>Washallallahu ‘ala nabiyyna Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.</p>
<p>[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]<br />
__________<br />
Footnotes<br />
[1]. Diasadur dari Kitab Al-Ikhlas, Syaih Husain bin Audah Al-Awaisyah, Maktabah Islamiyyah, cetakan VII, Tahun 1413H-1992M halaman 9-10<br />
[2]. Contoh dalam masalah ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa slam ; “Alangkah banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar. Dan alangkah banyak orang yang shalat malam, namun ia tidak mendapatkan bagian dari shalat malamnya kecuali begadang” [HR Ibnu Majah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh guru kami Syaikh Al-Albani dalam Shahihul-Jami, no. 3482]<br />
[3]. Lihat kitab Al-Ikhlas, halaman 11-13<br />
[4]. Bagian dari sebuah hadits di dalam dua kitab shahih<br />
[5]. HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih<br />
[6]. Kitab Al-Ikhlas, halaman 63-67<br />
[7]. Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman 234<br />
[8]. Nash haditsnya ialah : “Tidaklah tiga orang tinggal di sebuah desa atau padang pasir, shalat (jama’ah) tidak ditegakkan pada diri mereka kecuali mereka akan dikuasai oleh setan. Maka hendaklah kamu menetapi jama’ah, karena sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri” [HR Abu Dawud, dihasankan Syaikh Al-Albani, Pent]<br />
[9]. Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman 218</p>
Posted in akhlaq Tagged: hukum islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=165&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/09/17/waspadalah-terhadap-perangkap-riya-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imsak-Imsak….. Saatnya Berhenti Makan !!</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/08/25/imsak-imsak%e2%80%a6-saatnya-berhenti-makan/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/08/25/imsak-imsak%e2%80%a6-saatnya-berhenti-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 14:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[
Begitulah yang sering kita dengar 10-15 menit sebelum adzan Shubuh berkumandang….. Tidak lupa diiringi kentongan, sirine, atau peringatan-peringatan semisal yang disuarakan lewat speaker masjid. Katanya, jika waktu imsak telah datang kita sudah tidak diperbolehkan lagi makan dan minum karena termasuk waktu makruh – dan bahkan sebagian lain mengatakan waktu yang haram (untuk makan dan minum). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=168&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Begitulah yang sering kita dengar 10-15 menit sebelum adzan Shubuh berkumandang….. Tidak lupa diiringi kentongan, sirine, atau peringatan-peringatan semisal yang disuarakan lewat speaker masjid. Katanya, jika waktu imsak telah datang kita sudah tidak diperbolehkan lagi makan dan minum karena termasuk waktu makruh – dan bahkan sebagian lain mengatakan waktu yang haram (untuk makan dan minum). </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Di bawah ini akan disajikan tulisan ringan yang berisi beberapa hadits/atsar serta penjelasan ulama yang berkaitan dengan imsak puasa untuk mendudukkan perbuatan tersebut dalam syari’at Islam. </span></p>
<p align="right"><span style="font-family:Tahoma;">عَنْ انس بْنِ مَالِكٍ عَنْ زيْد بْن ثَابِتٍ رَضَي الله عَنْهُمَا قال: تَسَحَّرْنَا مَع رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَامَ إلى الصَّلاةِ.<br />
قال أنس: قُلْتُ لِزيْدٍ : كَمْ كَانَ بَيْنَ الأذَانِ وَالسُّحُورِ؟ قال: قَدْرُ خَمْسِينَ آيةٍ . </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Dari Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit <em>radliyallaahu ‘anhuma</em> ia berkata : ”Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>, kemudian kami berdiri untuk shalat. Maka saya (Anas) berkata : “Berapa lama jarak antara adzan dan makan sahur?”. Ia (Zaid) menjawab : <span style="font-family:Tahoma;">خمسين آية</span> (kira-kira bacaan lima puluh ayat dari Al-Qur’an)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1921 dan Muslim no. 1097]. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Yang dimaksud adzan di sini adalah iqamat. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Aali Bassam dalam <em>Taisirul-‘Allam Syarh ‘Umdatil-Ahkaam </em>(1/569-570 no. 177) mengatakan bahwa adzan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah iqamat. Iqamat disebut juga dengan adzan sebagaimana hadits : </span></p>
<p align="right"><span style="font-family:verdana;"><span style="font-family:Tahoma;">عن عبد الله بن مغفل المزني أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : بين كل أذانين صلاة &#8211; ثلاثا &#8211; لمن شاء.</span> </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Dari ‘Abdullah bin Mughaffal Al-Muzanniy : Bahwasannya Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda : <em>“Diantara dua adzan ada shalat</em> – beliau mengatakannya tiga kali – <em>bagi siapa saja yang ingin melakukannya”</em> [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 624, Muslim no. 838, Ad-Daarimiy no. 1480, dan Ibnu Hibbaan no. 1559-1561]. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Juga, sahur yang dilakukan Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> dan para shahabat adalah mendekati adzan shubuh atau bahkan (selesai) mendekati iqamat. Hal itu ditunjukkan oleh beberapa <em>qarinah</em> (keterangan) riwayat sebagai berikut : </span></p>
<ol>
<li><span style="font-family:verdana;">
<p align="justify">Abu Hurairah <em>radliyallaahu ‘anhu</em> meriwayatkan bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<div><span style="font-family:Tahoma;">إذا سمع أحدكم النداء والإناء على يده فلا يضعه حتى يقضي حاجته منه</span></div>
<div><em>“Jika salah seorang kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut)”</em> [Diriwayatkan oleh Ahmad no. 10637 dan Abu Dawud no. 2350 dengan sanad hasan; lihat <em>Al-Jaami’ush-Shahiih</em> 2/418-419 oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i].</div>
<p></span></li>
<li><span style="font-family:verdana;">
<div>Hadits maushul yang diriwayatkan dari Al-Husain bin Waqid dari Abu Umamah, ia berkata :</div>
<div><span style="font-family:Tahoma;">أقيمت الصلاة والإناء في يد عمر قال أشربها يا رسول الله قال نعم فشربها</span></div>
<div>“Pernah iqamah dikumandangkan sedangkan bejana masih di tangan Umar (bin Khaththab) <em>radliyallaahu ‘anhu</em>. Dia bertanya kepada Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> : Apakah aku boleh meminumnya?”. Beliau menjawab : <em>“Boleh”</em>. Maka Umar pun meminumnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir 3/527/3017 dengan dua sanad darinya; shahih].</div>
<p></span></li>
<li><span style="font-family:verdana;">
<div>Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Lahi’ah dari Abu Zubair, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang seseorang yang bermaksud puasa sedangkan ia masih memegang gelas untuk minum, kemudian ia mendengar adzan. Jabir menjawab :</div>
<div><span style="font-family:Tahoma;">كنا نتحدث أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ليشرب</span></div>
<div>“Kami pernah mengatakan hal seperti itu kepada Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> dan beliau bersabda : ‘Hendaklah ia minum’” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/348 no. 14797 dan ia berkata : Telah meriwayatkan pada kami Musa, ia berkata : Telah meriwayatkan kepada kami Ibnu Lahi’ah]. Asy-Syaikh Al-Albani berkata : “Isnad ini tidak mengapa (dapat dipakai), jika untuk penguat. Al-Walid bin Muslim juga meriwayatkannya dari Ibnu Lahi’ah [Diriwayatkan oleh Abul-Husain Al-Kilabi dalam <em>Nuskhah Abul-‘Abbas Thahir bin Muhammad</em>]”. Perawi-perawinya <em>tsiqaat</em>, para perawi Muslim, kecuali Ibnu Lahi’ah, karena jelek hafalannya. Al-Haitsami berkata dalam <em>Al-Majma’</em> (3/153) : “Diriwayatkan oleh Ahmad dan isnadnya hasan”. Berkata Syu’aib Al-Arna’uth : “<em>Hasan lighairihi</em>, dan sanad hadits ini adalah <em>dla’if</em> karena jeleknya hapalan Ibnu Lahi’ah”.</div>
<p></span></li>
<li><span style="font-family:verdana;">
<div>Hadits yang dikeluarkan oleh Ishaq dari Abdullah bin Mu’aqal dari Bilal, ia berkata :</div>
<div><span style="font-family:Tahoma;">أتيت النبي صلى الله عليه وسلم أوذنه لصلاة الفجر , و هو يريد الصيام , فدعا بإناء فشرب , ثم ناولني فشربت , ثم خرجنا إلى الصلاة</span></div>
<div>“Aku pernah mendatangi Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> untuk adzan shalat shubuh, padahal beliau akan berpuasa. Kemudian beliau meminta segelas air untuk minum. Setelah itu beliau mengajakku untuk minum dan kami keluar untuk shalat” [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir no. 3018 dan 3019, Ahmad 6/12 no. 23935, dan perawi-perawinya <em>tsiqaat</em>, para perawi Al-Bukhari dan Muslim. Namun sanad hadits ini adalah dla’if, karena tidak diketahui penyimakan ‘Abdullah bin Ma’qil Al-Muzanniy dari Bilaal. Ada riwayat lain yang semakna dari Ja’far bin Barqan dari Syaddaad <em>maula</em> ‘Iyadl bin ‘Amir dari Bilal, namun ia juga lemah karena jahalah Syaddaad - sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad 6/13 no. 23947].</div>
<p></span></li>
<li><span style="font-family:verdana;">
<div>Muthi’ bin Rasyid meriwayatkan : Telah menceritakan kepada kami Taubah Al-Anbariy bahwa ia mendengar Anas bin Malik berkata :</div>
<div><span style="font-family:Tahoma;">قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : &#8221; أنظر من في المسجد فادعه , فدخلت &#8211; يعني &#8211; المسجد , فإذا أبو بكر و عمر فدعوتهما , فأتيته بشيء , فوضعته بين يديه , فأكل و أكلوا , ثم خرجوا , فصلى بهم رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الغداة &#8220;</span></div>
<div>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : <em>“Lihatlah, siapa yang berada di masjid. Panggillah ia !”</em>. Kemudian aku (Anas) masuk masjid dan aku dapati Abu Bakr dan ‘Umar. Kemudian aku memanggil mereka, lalu aku bawakan suatu makanan dan aku letakkan di depan beliau <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam.</em> Kemudian beliau makan bersama mereka, setelah itu mereka keluar. Kemudian Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> shalat bersama mereka, yaitu shalat shubuh” [Diriwayatkan oleh Al-Bazzar no. 993 dalam <em>Kasyful-Astar</em> dan ia berkata : “Kami tidak mengetahui Taubah menyandarkan kepada Anas kecuali hadits ini dan satu hadits lain dan tidak meriwayatkan dua hadits itu darinya – yaitu Anas - , kecuali Muthi’]. Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam <em>Az-Zawaid</em> hal. 106 : “Isnad hadits ini hasan”. Asy-Syaikh Al-Albani berkata : “Al-Imam Al-Haitsami berkata seperti itu juga (seperti perkataan Al-Hafidh Ibnu Hajar) dalam <em>Al-Majma’</em> (3/152)”.</div>
<p></span></li>
<li><span style="font-family:verdana;">
<div>Qais bin Rabi’ meriwayatkan dari Zuhair bin Abi Tsabit Al-A’maa dari Tamim bin ‘Iyaadl dari Ibnu ‘Umar ia berkata :</div>
<div><span style="font-family:Tahoma;">كان علقمة بن علاثة عند رسول الله صلى الله عليه وسلم , فجاء بلال يؤذنه بالصلاة , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : رويدا يا بلال ! يتسحر علقمة, وهو يتسحر برأس</span></div>
<div>Alqamah bin Alatsah pernah bersama Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> kemudian datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan. Kemudian Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : “Tunggu sebentar wahai Bilal ! Alqamah sedang makan sahur. – Dan ia (‘Alqamah) baru mulai makan sahur ” [Diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi no. 2010 dan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir sebagaimana dalam <em>Al-Majma’</em> 3/153 dan ia berkata : “Qais bin Ar-Rabi’ dianggap tsiqah oleh Syu’bah dan Sufyan Ats-Tsauri padahal padanya – yaitu Qais – ada pembicaraan]. Asy-Syaikh Al-Albani berkata : “Haditsnya (Qais) hasan jika ada <em>syawahid-</em>nya, karena ia (Qais) sendiri <em>shaduq</em> (jujur). Hanya yang dikhawatirkan adalah jeleknya hafalannya. Maka apabila ia meriwayatkan hadits yang sesuai dengan perawi-perawi tsiqat lainnya, haditsnya dapat dipakai”. Dr. Muhammad bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy (pen-tahqiq <em>Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisiy</em>) berkata : “Sanadnya <em>dla’if</em>, karena ke-<em>dla’if</em>-an Qais bin Ar-Rabii’”.</div>
<p></span></li>
<li><span style="font-family:verdana;">
<div>Diriwayatkan dari Syuhaib bin Gharqadah Al-Bariqi dari Hiban bin Harits ia berkata :</div>
<div><span style="font-family:Tahoma;">تسحرنا مع علي بن أبي طالب رضي الله عنه , فلما فرغنا من السحور أمر المؤذن فأقام الصلاة</span></div>
<div>“Kami pernah makan sahur bersama ‘Ali bin Abi Thalib <em>radliyallaahu ‘anhu</em>. Maka ketika kami telah selesai makan sahur, ia (‘Ali) menyuruh muadzin untuk iqamat” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam <em>Syarh Ma’anil-Atsar</em> 1/106 dan Al-Muhlis dalam <em>Al-Fawaid Al-Munthaqah</em> 8/11/1]. Perawi-perawinya <em>tsiqat</em> kecuali Hibban. Ibnu Abi Hatim 1/2/269 membawakan riwayat ini dan ia tidak menyebutkan <em>jarh </em>ataupun <em>ta’dil</em>-nya. Sedangkan Ibnu Hibban menulisnya dalam <em>Ats-Tsiqaat</em>.</div>
<p></span></li>
</ol>
<p><span style="font-family:verdana;">[Lihat keseluruhan riwayat ini dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 1394].</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Dengan melihat beberapa riwayat di atas jelaslah bagi kita bahwa Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> dan para shahabat makan sahur sampai hampir mendekati adzan atau bahkan iqamat. Hampir dikatakan tidak ada jeda antara keduanya (sahur dan adzan). Maka, makna kadar waktu 50 ayat itu merupakan kadar waktu selesai makan sahur sampai menjelang shalat shubuh (iqamat). Bukan waktu berhentinya sahur sampai adzan. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Itulah sunnah Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika sebagian ulama menganggap perbuatan mengumandangkan waktu imsak sebelum waktu shubuh sebagai perbuatan bid’ah. Telah berkata Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah tentang keadaan imsak sahur di jamannya yang mirip-mirip dengan yang ada sekarang : </span></p>
<p align="right"><span style="font-family:Tahoma;">من البدع المنكرة ما أحدث في هذا الزمان من إيقاع الأذان الثاني قبل الفجر بنحو ثلث ساعة في رمضان واطفاء المصابيح التي جعلت علامة لتحريم الأكل والشرب على من يريد الصيام زعما ممن أحدثه أنه للاحتياط في العبادة ولا يعلم بذلك الا آحاد الناس وقد جرهم ذلك إلى أن صاروا لا يؤذنون الا بعد الغروب بدرجة لتمكين الوقت زعموا فاخروا الفطر وعجلوا السحور وخالفوا السنة فلذلك قل عنهم الخير وكثير فيهم الشر والله المستعان </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">“Termasuk bid’ah yang munkar adalah apa yang terjadi di jaman ini (jamannya Ibnu Hajar) yaitu adanya pengumandangan adzan kedua tiga perempat jam sebelum waktu fajar bulan Ramadlan. Serta memadam lampu-lampu sebagai pertanda telah datangnya waktu haram untuk makan dan minum bagi yang berpuasa keesokan harinya. Orang yang berbuat seperti ini beranggapan bahwa hal itu dimaksudkan untuk berhati-hati dalam beribadah, sebab yang mengetahui persis batas akhir sahur hanya segelintir manusia. Sikap hati-hati yang demikian, juga menyebabkan mereka tidak diijinkan untuk berbuka puasa kecuali setelah matahari terbenam beberapa saat agar lebih mantap lagi (menurut anggapan mereka). Akibatnya mereka suka mengakhirkan waktu berbuka puasa, suka mempercepat waktu sahur, dan suka menyalahi Sunnah. Oleh sebab itulah mereka sedikit mendapatkan kebaikan, tetapi banyak mendapatkan keburukan” [<em>Fathul-Baariy</em>, 4/199]. </span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana;">Hal di atas merupakan imsak versi jaman Ibnu Hajar dengan pengumandangan adzan tiga perempat jam sebelum fajar plus memadamkan lampu sebagai tanda berhentinya makan dan minum. Sungguh, Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> telah bersabda :</p>
<p align="right"><span style="font-family:Tahoma;">هلك المتنطعون قالها ثلاثا</span></p>
<p align="justify"><em>“Telah binasa orang-orang terdahulu yang berlebih-lebihan”</em> – beliau mengatakannya tiga kali [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2670].</p>
<p align="justify">Semoga kita bukan termasuk golongan yang binasa karena menyelisihi sunnah dan membuat bid’ah dalam agama.</p>
<p align="justify"><em>Wallaahu a’lam</em>.</p>
<p align="justify">
<strong>Catatan Penting :</strong></p>
<ol>
<li>
<div>Apa yang ditulis di sini bukan berarti menyuruh untuk berlambat-lambat makan sahur mepet waktu Shubuh hingga kita tertinggal shalat Shubuh. Semua bisa diperkirakan. Barangsiapa yang rumahnya jauh dengan masjid, maka ia dapat menyelesaikan makan sahur dengan segera tanpa harus tertinggal shalat berjama’ah. Insya Allah ia mendapatkan keutamaan mengakhirkan makan sahur sebagaimana dalam sunnah Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>.</div>
</li>
<li>
<div>Untuk menghindari salah paham, perlu kami tegaskan bahwa tulisan ini juga tidak menganjurkan kaum muslimin untuk sahur setelah adzan shubuh dikumandangkan. Atau bahkan sengaja sahur mendekati iqamat. Imsak puasa tetaplah berpatokan pada ayat :</div>
<div><span style="font-family:Tahoma;">وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ</span></div>
<div><em>“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”</em> [QS. Al-Baqarah : 187].</div>
<div>Tidak ada perubahan hukum dalam masalah ini berdasarkan nash dan ijma’ ulama.</div>
<div>Tulisan ini hanyalah mengkritisi adat kebiasaan masyarakat yang tidak ada dalilnya dengan melakukan imsak makan minum beberapa saat sebelum adzan Shubuh berkumandang – sehingga banyak di antara mereka kehilangan keutamaan mengakhirkan sahur sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para shahabat.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify">[Dihimpun oleh Abu Al-Jauzaa’ dari beberapa sumber, after midnight in Ramadlan Mubarak 1430 H].</p>
<p align="justify">Diedit kembali tanggal : 16 Ramadlan 1430 H.<a name="_ftnref1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8372105893582766617&amp;postID=9180898850206930050#_ftn1">[1]</a><br />
Baca juga : <a href="http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/minum-setelah-adzan-shubuh.html">Minum Setelah Adzan Shubuh</a></p>
<p align="justify"><strong>Catatan kaki :</strong></p>
<p align="justify"><a name="_ftn1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8372105893582766617&amp;postID=9180898850206930050#_ftnref1">[1]</a> Dikarenakan ada beberapa ikhwah yang salah paham akibat adanya kekurangjelasan yang ada pada tulisan sebelumnya. Kesempurnaan hanyalah milik Allah semata.</p>
<p></span></div>
Posted in fiqih, hadist Tagged: hukum islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=168&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/08/25/imsak-imsak%e2%80%a6-saatnya-berhenti-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WASPADALAH TERHADAP PERANGKAP RIYA..!</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/07/16/waspadalah-terhadap-perangkap-riya/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/07/16/waspadalah-terhadap-perangkap-riya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 16:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Oleh
Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah
sumber: almanhaj.or.id
IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA [1]
Apa syarat diterimanya amal?
Sebelum anda melangkah satu langkah –wahai saudaraku muslim- hendaklah anda mengetahui jalan untuk merengkuh keselamatanmu. Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=166&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh<br />
Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah<br />
sumber: almanhaj.or.id</p>
<p>IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA [1]<br />
Apa syarat diterimanya amal?<br />
Sebelum anda melangkah satu langkah –wahai saudaraku muslim- hendaklah anda mengetahui jalan untuk merengkuh keselamatanmu. Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata di dunia dan siksaan di akhirat. [2]<br />
<span id="more-166"></span><br />
Maka, sebelum memulai semua amalan, hendaklah anda mengetahui syarat diterimanya amal. Yaitu harus terpenuhi dua perkara penting pada setiap amalan. Jika salah satu tidak tercapai, akibatnya amalan seseorang tidak ada harapan untuk diterima. Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua : Amalan itu telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau dijelaskan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, dan mengikuti Rasulullah dalam pelaksanaannya.</p>
<p>Jika salah satu dari dua syarat ini rusak, perbuatan yang baik tidak masuk kategori amal shalih dan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernyataan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala.</p>
<p>“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi : 110]</p>
<p>Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar amal yang dikerjakan ialah amalan shalih, yaitu amal perbuatan yang sesuai dengan aturan syari’at. Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang yang menjalankannya supaya mengikhlaskan amalan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak mencari pahala atau pamrih dari selain-Nya dengan amalan itu.</p>
<p>Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya ; “Dua perkara ini merupakan rukun diterimanya suatu amalan. Yaitu, amalan itu harus murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan serupa juga diriwayatkan Al-Qadhi Iyadh rahimahullah dan lainnya” [Tafsir surah Al-Kahfi].</p>
<p>PERINTAH IKHLAS, LARANGAN BERBUAT RIYA DAN SYIRIK [3]<br />
Ketahuilah, wahai saudaraku muslim, bahwa semua amalan pasti terjadi dengan niat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Sesungguhnya semua amalan ini terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan” [4]</p>
<p>Dan dalam amal itu harus mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p>“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [Al-Bayyinah : 5]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.</p>
<p>“Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” [Ali-Imran : 29]</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memperingatkan bahaya dari berbuat riya’, dalam firman-Nya.</p>
<p>“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu” [Az-Zumar : 65]</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia mneyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [HR Muslim, no. 2985]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat” [5]</p>
<p>RIYA DAN JENIS-JENISNYA [6]<br />
Di antara jenis riya’ ialah sebagi berikut.</p>
<p>1). Riya Yang Berkaitan Dengan Badan<br />
Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, untuk menampakkan bahwa ia rajin berpuasa.</p>
<p>2). Riya Dari Sisi Pakaian<br />
Misalnya, membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai orang alim.</p>
<p>3). Riya Dengan Perkataan<br />
Umumnya, riya’ seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasihat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berdiskusi dan melakukan perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara. Semua itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu’ (kepada Allah, pent).</p>
<p>4). Riya’ Dengan Perbuatan<br />
Seperti riya’nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikian lama, memanjangkan ruku, sujud dan menampakkan kekhusyu’an, riya’ dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, shadaqah dan semacamnya.</p>
<p>5). Riya’ Dengan Kawan-Kawan Dan Tamu-Tamu<br />
Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”.</p>
<p>PERKARA YANG DISANGKA RIYA DAN SYIRIK, PADAHAL BUKAN !</p>
<p>1). Pujian Manusia Untuk Seseorang Terhadap Perbuatan Baiknya<br />
Dari Abu Dzar, dia berkata : Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya!” Beliau bersabda : “itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin” [HR Muslim, no. 2642, Pent)</p>
<p>2). Giatnya Seorang Hamba Melakukan Ibadah Pada Saat Dilihat Oleh Orang-Orang Yang Beribadah<br />
Al-Maqdisi rahimahullah berkata : Terkadang seseorang bermalam bersama orang-orang yang melaksanakan shalat tahajjud, lalu mereka semua melakukan shalat di sebahagian besar waktu malamnya, sedangkan kebiasaan orang itu melakukan shalat malam satu jam, sehingga ia pun menyesuaikan dengan mereka. Atau mereka berpuasa, lalu ia pun berpuasa. Seandainya bukan karena orang-orang itu, semangat tersebut tidak muncul.</p>
<p>Mungkin ada seseorang yang menyangka bahwa (perbuatan) itu merupakan riya’, padahal tidak mutlak demikian. Bahkan padanya terdapat perincian, bahwasanya setiap mukmin menyukai beribadah kepada Allah Ta’ala, tetapi terkadang banyak kendala yang menghalanginya. Dan kelalaian telah menyeretnya, sehingga dengan menyaksikan orang lain itu, maka kemungkinan menjadi faktor yang menyebabkan hilangnya kelalaian tersebut, kemudian ia dapat menguji urusannya itu, dengan cara menggambarkan orang-orang lain itu berada di suatu tempat yang dia dapat melihat mereka, namun mereka tidak dapat melihatnya. Jika dia melihat jiwanya ringan melakukan ibadah, maka itu untuk Allah. Jika jiwanya merasa berat, maka keringanan jiwanya di hadapan orang banyak itu merupakan riya’. Bandingkan (perkara lainnya) dengan ini” [7]</p>
<p>Aku katakan :<br />
Kemalasan seseorang ketika sendirian datang masuk dalam konteks sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“(Sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri), sedangkan semangatnya masuk ke dalam bab melaksanakan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“(Hendaklah kamu menetapi jama’ah) [8]</p>
<p>3). Membaguskan Dan Memperindah Pakaian, Sandal Dan Semacamnya<br />
Di dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.</p>
<p>“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?)”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” [HR Muslim no. 2749, Pent]</p>
<p>4). Tidak Menceritakan Dosa-Dosanya Dan Menyembunyikan<br />
Ini merupakan kewajiban menurut syari’at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatan-kemaksiatan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>“Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya, Pent), lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya” [HR Al-Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990, Pent]</p>
<p>Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, (dan) bukan di sini perinciannya. Di antaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta’ala. Barangsiapa menyangka bahwa menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya’ dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.</p>
<p>5). Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya<br />
Al-Maqdisi berkata : “Yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapaun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya, Pent)” [9]</p>
<p>Demikian, beberapa penjelasan berkaitan dengan riya’. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita semua dari sifat buruk ini, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam beramal.</p>
<p>Washallallahu ‘ala nabiyyna Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.</p>
<p>[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]<br />
__________<br />
Footnotes<br />
[1]. Diasadur dari Kitab Al-Ikhlas, Syaih Husain bin Audah Al-Awaisyah, Maktabah Islamiyyah, cetakan VII, Tahun 1413H-1992M halaman 9-10<br />
[2]. Contoh dalam masalah ini adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa slam ; “Alangkah banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali lapar. Dan alangkah banyak orang yang shalat malam, namun ia tidak mendapatkan bagian dari shalat malamnya kecuali begadang” [HR Ibnu Majah, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh guru kami Syaikh Al-Albani dalam Shahihul-Jami, no. 3482]<br />
[3]. Lihat kitab Al-Ikhlas, halaman 11-13<br />
[4]. Bagian dari sebuah hadits di dalam dua kitab shahih<br />
[5]. HR Abu Dawud dengan sanad yang shahih<br />
[6]. Kitab Al-Ikhlas, halaman 63-67<br />
[7]. Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman 234<br />
[8]. Nash haditsnya ialah : “Tidaklah tiga orang tinggal di sebuah desa atau padang pasir, shalat (jama’ah) tidak ditegakkan pada diri mereka kecuali mereka akan dikuasai oleh setan. Maka hendaklah kamu menetapi jama’ah, karena sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri” [HR Abu Dawud, dihasankan Syaikh Al-Albani, Pent]<br />
[9]. Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman 218</p>
Posted in tauhid Tagged: hukum islam, islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=166&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/07/16/waspadalah-terhadap-perangkap-riya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beberapa Perkara Pembatal Amalan</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/07/08/beberapa-perkara-pembatal-amalan/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/07/08/beberapa-perkara-pembatal-amalan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 17:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[dikutip dari milis assunnah
Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali 

Alhamdulillah shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi-Nya dan hamba-Nya yang tidak ada nabi setelahnya, juga kepada keluarga dan sahabatnya. amma ba&#8217;du

Sesungguhnya kebahagiaan abadi adalah di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang tidak akan didapatkan oleh seorang hamba kecuali dengan menjauhi perangai yang dianggap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=163&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><em>dikutip dari milis assunnah</em></span></p>
<p><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><em>Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali</em></span><span style="font-size:small;"><em> </em></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;">Alhamdulillah shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi-Nya dan hamba-Nya yang tidak ada nabi setelahnya, juga kepada keluarga dan sahabatnya. amma ba&#8217;du</span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Sesungguhnya kebahagiaan abadi adalah di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang tidak akan didapatkan oleh seorang hamba kecuali dengan menjauhi perangai yang dianggap baik oleh sebuah jiwa akan tetapi akan menggugurkan pahala dan amalannya. </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Akan tetapi wahai hamba Allah, engkau berada di atas suatu ilmu yang terkumpul untuk-mu di lembaran ini yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan As-Sunnah sahihah :</span><span style="font-size:small;"> <span id="more-163"></span><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>1. Kufur dan syirik</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:blue;font-size:x-small;">&#8220;Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan perjumpaan di hari akhirat, maka gugurlah amalan-amalan mereka, dan tidaklah mereka diberi balasan kecuali dengan apa yang telah mereka perbuat (al A&#8217;raf:174) dan juga firman-Nya &#8221; dan telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, jika kamu berbuat syirik, niscaya gugurlah amalan-amalanmu dan tentulah kamu menjadi orang yang merugi &#8221; (az Zumar: 65)</span><span style="color:blue;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>2. Murtad</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala : </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:blue;font-size:x-small;">&#8221; Barangsiapa yang murtad diantara kalian dari agamanya kemudian mati dakan keadaan kafir, mereka itulah yang gugur amalan-amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka adalah penghuni neraka serta kekal di dalamnya.&#8221; (Al Baqarah : 217)</span><span style="color:blue;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>3. Nifaq dan Riya&#8217;</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Sesungguhnya dari yang saya takutkan terhadapmu adalah syirik kecil, yaitu riya&#8221;. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman (dalam sebuah hadits qudsi) pada hari kiamat, &#8220;Jika Allah memberi balasan kepada manusia dari amalan-amalan. Maka pergilah kalian kepada amalan yang kamu berbuat ria di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan padanya pahala&#8221; (dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan al Baghawi dari hadits Mahmud bin Labid dengan sanad shahih menurut syarat Imam Muslim)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>5. Mengungkit-ngungkit pemberian</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:blue;font-size:x-small;">&#8220;Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian gugurkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebut (pemberian) dan menyakiti (hati penerima) (Al Baqarah : 264). </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Dan dari Abu Umamah Radiyallahu &#8216;anhu berkata Nabi shalallahu &#8216;alahi wasallam bersabda:</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Tiga perkara yang Allah tidak akan terima penolakan dan penebusan yaitu orang yang durhaka kepada orang tua, pengungkit-ngungkit pemberian dan orang yang mendustakan takdir (dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Thabrany dengan sanad hasan)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>6. Mendustakan Takdir</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Kalau seandainya Allah mengadzab penduduk langit dan bumi niscaya dia akan mengadzabnya sedang Dia tidak sedikitpun berbuat dzalim terhadap mereka, dan seandainya Dia merahmati mereka niscaya rahmat-Nya lebih baik dari amalan-amalan mereka. Seandainya seseorang menginfaqkan emas di jalan Allah sebesar Gunung Uhud, tidaklah Allah akan menerima infaq tersebut darimu sampai engkau beriman dengan takdir, dan ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan menyelisihimu, sedang apa yang (ditakdirkan) tidak menimpamu maka tida akan menimpamu, kalau seandainya engkau mati dalam keadaan mengimanai selain ini (tidak beriman dengan takdir), niscaya engkau masuk neraka (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dan Ahmad, hadits ini shahih)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>7. Meninggalkan shalat Ashar</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Orang yang meluputkan dari shalat ashar maka seolah-olah dia kehilangan keluarga dan hartanya (yakni tinggal sendirian tanpa harta dan keluarga), (Dari hadits Ibnu Umar, mutafaq &#8216;alaihi), dan juga sabda beliau &#8220;Barangsiapa meninggalkan shalat ashar maka sungguh gugurlah amalannya (Bukhari dari hadits Buraidah)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>8. At Ta&#8217;ly atas Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Sesungguhnya seseorang yang berkata, Allah tidak akan mengampuni terhadap si fulan, maka Allah berkata, Barangsiapa beranggapan atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, maka sungguh Aku telah mengampuni si fulan, dan engkau telah menggugurkan amalanmu, atau sebagaimana beliau katakan (dikelurkan oleh Muslim dari hadtis Jundub bin Abdullah Radhiyallu anhu)</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"> </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;">At Ta&#8217;ly atas Allah yaitu : berkata tentang Allah tanpa ilmu, menyepelekan luasnya rahmat Allah dan bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni terhadap seseorang.</span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>9. Menyelisihi Rasul shalallahu &#8216;alaihi wasallam -baik ucapan maupun amalan-</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala :</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:blue;font-size:x-small;">&#8220;Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian angkat suara-suaramu diatas suara Nabi dan jangan kalian mengeraskan suara kepadanya layaknya seorang diantara kalian terhadap yang lainnya, sehingga akan gugurlah amalan-amalan kalian dalam keadaan kalian tidak menyadari&#8221; (Al Ahzab : 2). </span></p>
<p><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;">Dan firman-Nya : </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:blue;font-size:x-small;">&#8220;Hai orang-orang beriman taatilah Allah dan Rasul-Nya dan jangan kalian gugurkan amalan-amalan kalian&#8221; (Muhammad: 33)</span><span style="color:blue;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>10. Berbuat bid&#8217;ah dalam agama</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan kami ini, sesuatu yang tidak ada petunjuk agama padanya, maka itu tertolak (Mutafaq &#8216;alaih dari hadtis Aisyah radhiyallahu &#8216;anha) dalam riwayat Muslim disebutkan &#8221; Barangsiapa beramal dengan amalan yang bukan perintah kami maka itu tertolak &#8220;</span><span style="color:#008000;font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>11. Melanggar Ketentuan-ketentuan Allah di waktu sepi</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan semisal gunung putih, kemudian Allah jadikan seperti halnya debu yang berterbangan&#8221;, berkata Tsauban, &#8221; Wahai Rasulullah, sifatkanlah tentang keadaan mereka kepada kami, dan supaya kami tidak termasuk dari mereka, dan sedang kami dalam keadaan tidak mengetahui&#8221;, Beliau bersabda &#8220;Adapun mereka itu dari saudara kalian seagama, dan dari bangsa kalian, mereka mengambil bagian dari waktu malam sebagaimana juga kalian mengambilnya, akan tetapi mereka itu adalah sebuah kaum yang jika melewati larangan Allah mereka melanggarnya (Dikeluarkan oleh ibnu Majah dari hadits Tsauban Radhiyallahu &#8216;anhu dan dishahihkan oleh al Mundziri dan Al Baushiri)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>12. Gembira dan Bahagia dengan terbunuhnya seorang mukmin</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Barangsiapa membunuh seorang mukmin dan berharap akan terbunuhnya maka Allah tidak akan menerima darinya penolakan (adzab) ataupun penebusan. (dikelurkan oleh Abu Dawud dari hadits Ubadah bin shamit, hadits ini shahih).</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>13. Menetap di negeri-negeri kafir</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Allah Azza wajalla tidak akan menerima amalan dari seorang musyrik yang masuk Islam sampai memisahkan musyrikin kepada muslimin&#8221; (Dikelurkan oleh Nasai dan Ahmad dari Hadits Mu&#8217;awiya bin Hayidah radhiyallahu &#8216;anhu dengan sanad hasan)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>14 Mendatangi dukun dan tukang ramal</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam :</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Barangsiapa mendatangi tukang ramal kemudian menanyakan tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama 40 hari (dikeluarkan oleh Muslim) </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;">dan sabdanya</span><span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;"> </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakan maka sungguh telah kafir kepada yang diturukan kepada Muhammad (Al Qur&#8217;an), (dikeluarkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, dari hadits Abu Hurairah, sahih)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>15. Durhaka kepada kedua orang tua</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Tiga golongan yang Allah tidak akan terima dari mereka penolakan atau penebusan yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, pengungkit pemberian, dan pendusta takdir&#8221; (telah berlalu takhrijnya dipoint no.5)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>16. Pecandu Khamar</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Barangsiapa meminum khamar Allah tidak akan terima darinya shalat empat puluh hari, apabila dia taubat, maka Allah terima taubatnya, apabila dia kembali berbuat maka Allah tidak akan terima lagi shalatnya selama 40 hari, dan apabila dia taubat maka Allah tidak akan terima taubatnya, dan Allah akan memberinya minum dari sungai Khibal&#8221;, dikatakan kepadanya &#8220;wahai Abu Abdiraman , apa sungai khibal tersebut, dia berkata : yaitu sungai dari nanah penduduk neraka (dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Umar, dan dia shahih), </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;">dan sabda Beliau Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Pecandu khamr, jika mati maka akan menemui Allah seperti penyembah berhala (dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Abbas, dan baginya ada syahid (penguat) dari hadits Abu Hurairah dikeluarkan oleh Ibnu Majah, secara keseluruhannya derajatnya hasan)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berkata Ibnu Hiban : </span><span style="font-family:sans-serif;color:#800080;font-size:x-small;">Serupa makna khabar ini dengan &#8220;Barangsiapa bertemu Allah dari pecandu khamr dengan anggapan halal meminumnya, seperti penyembah berhala, karena kesamaan keduanya dalam kekufuran.</span><span style="color:#800080;font-size:small;">&#8220;</span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>17. Berkata dusta dan beramal dengannya</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada kepentingan bagi Allah seseorang meninggalkan makan dan minumnya &#8221; (dikeluarkan oleh Bukhari)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>18. Memelihara anjing kecuali anjing yang dididik untuk pertanian atau berburu</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Barangsiapa memelihara anjing, maka akan berkurang amalannya setiap hari sebear satu qiroth (dalam riwayat lain dua qiroth), kecuali anjing untuk menjaga kebun atau anjing penjaga ternak (mutafaq alaihi, dan riwayat kedua dari muslim)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>19. Budak yang lari dari tuannya, tanpa karena takut atau keletihan dalam pekerjaan, sampai dia kembali kepada tuannya</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>20. Istri yang durhaka sampai kembali taat terhadap suaminya.</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berkata Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam</span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Dua golongan yang sungguh sangat merugi yaitu seorang hamba yang lari dari tuannya sampai kembali kepada mereka dan seorang istri yang maksiat terhadap suaminya sampai dia kembali kepadanya (dikeluarkan oleh Hakim dan Thabrany dalam as shaghir, shahih)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>21. Pemimpin yang dibenci kaumnya</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Tiga golongan yang sangat merugi yaitu seorang budak yang lari dari tuannya sampai dia kembali, seorang wanita yang bermalam dengan suaminya dalam keadaan (suami) murka padanya, dan seorang pemimpin yang dibenci kaumnya&#8221; (Dikeluarkan dan dihasankan oleh Tirmidzi) </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berkata Tirmidzi : </span><span style="font-family:sans-serif;color:#800080;font-size:x-small;">&#8220;Sekelompok orang dari ahli ilmu membenci seseorang untuk memimpin sebuah kaum, yang mereka benci padanya. Apabila imam itu tidak dzalim, maka sesungguhnya dosa itu atas yang membencinya. Dinukilkan dari Manshur: Kami bertanya tentang perkara imam, maka dikatakan kepada kami: Pemimpin-pemimpin yang dzalim itu sangat menyusahkan, dan adapun yang menegakkan sunnah maka sesungguhnya dosa bagi siapa yang membencinya.&#8221;</span><span style="color:#800080;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
<strong>22. Seorang muslim memboikot saudaranya muslim tanpa udzur syar&#8217;ie</strong></span><span style="font-size:small;"><strong> </strong></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam </span><br />
<span style="font-family:sans-serif;color:#008000;font-size:x-small;">&#8220;Dibukakan pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis dan diampunkan bagi setiap hamba yang tidak mensekutukan Allah dengan sesuatupun kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya ada kebencian&#8221; Beliau berkata, &#8221; perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun.&#8221; (Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah)</span><span style="color:#008000;font-size:small;"> </span><span style="font-size:small;"></p>
<p></span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Wahai saudara seislam, ini adalah perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan amalan-amalan, berada di depanmu. Dan bahayanya terhadap agamamu sangat jelas, maka jauhilah perkara tersebut dan berhati-hatilah darinya dan hendaklah hatimu tetap berharap kepada sesuatu yang memberi manfaat kepadamu di dunia dan akhirat, karena setiap hati butuh kepada tarbiyah supaya suci dan terus bertambah suci hingga sampai usia lanjut sempurnalah dan baiklah ia.</span><span style="font-size:small;"><br />
</span><span style="font-family:sans-serif;font-size:x-small;"><br />
Ya Allah yang membolak-balikan hati tetapkanlah hati-hati kami atas agama-Mu, dan janganlah Engkau palingkan kami meskipun hanya sekejap saja. </span></p>
Posted in kajian  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=163&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/07/08/beberapa-perkara-pembatal-amalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tauhid Rububiyyah Bukan Sekedar Pengakuan</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/29/tauhid-rububiyyah-bukan-sekedar-pengakuan/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/29/tauhid-rububiyyah-bukan-sekedar-pengakuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 16:34:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani
disalin dari milis assunnah
Mengenai keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa dipastikan dengan empat argumen yang tak terbantahkan yakni fitrah, logika, panca indera, dan syariat. Di sini kita mengakhirkan argumen secara syariat bukan karena tidak layak untuk dikedepankan, bahkan demikianlah yang seharusnya. Tetapi hal ini dimaksudkan untuk membantah orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=161&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Penulis: Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani</p>
<p>disalin dari milis assunnah</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa dipastikan dengan empat argumen yang tak terbantahkan yakni fitrah, logika, panca indera, dan syariat. Di sini kita mengakhirkan argumen secara syariat bukan karena tidak layak untuk dikedepankan, bahkan demikianlah yang seharusnya. Tetapi hal ini dimaksudkan untuk membantah orang-orang yang tidak beriman dengan syariat sama sekali. Allahul Musta’an. <span id="more-161"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa Allah adalah Pencipta, Penguasa alam semesta, dan Pengatur Rizki atas segenap makhluk-Nya, hampir tak ada yang menyangkalnya termasuk musyrikin Quraisy dahulu. Namun mengapa mereka tetap diperangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Cukupkah berhenti pada pengakuan semata?  Tak bisa disangkal bahwa alam semesta ini pasti ada yang menciptakan, memiliki, dan mengaturnya. Ini merupakan perkara aksioma yang ditegaskan oleh fitrah, logika, panca indera, dan syariat.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang mengingkarinya termasuk manusia yang paling sesat. Tak mungkin alam yang sedemikian mengagumkan ini tercipta secara tiba-tiba atau menciptakan dirinya sendiri. Tentu semuanya karena rancangan kehendak Sang Pencipta yaitu Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya. Langit, bumi, lautan, daratan, matahari, bulan, bintang, dan segenap makhluk besar lainnya menunjukkan Kemahabesaran Dzat yang telah menciptakan, memiliki, dan mengaturnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia Maha Tinggi di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, serta (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam</em>.” (Al-A’raf: 54)</p>
<p style="text-align:justify;">Termasuk perkara yang sangat prinsip dalam mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah mengakui keberadaan-Nya sebagai pencipta, pemilik, dan pengatur Alam semesta. Inilah yang disebut dengan Tauhid Rububiyyah. Penegasan tauhid ini telah dimaklumatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur`an pada enam tempat dengan pernyataan yang sama yaitu:  “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun keenam tempat itu sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Surat Al-Fatihah: 2</p>
<p style="text-align:justify;">2. Surat Al-An’am: 45</p>
<p style="text-align:justify;">3. Surat Yunus: 10</p>
<p style="text-align:justify;">4. Surat Ash-Shaffat: 182</p>
<p style="text-align:justify;">5. Surat Az-Zumar: 75</p>
<p style="text-align:justify;">6. Surat Ghafir: 65</p>
<p style="text-align:justify;">Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara Rububiyyah berarti mengimani keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta mengesakan-Nya dalam hal penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan. Keempat perkara ini merupakan kandungan dari Tauhid Rububiyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Meyakini Keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Mengenai keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa dipastikan dengan empat argumen yang tak terbantahkan yakni fitrah, logika, panca indera, dan syariat. Di sini kita mengakhirkan argumen secara syariat bukan karena tidak layak untuk dikedepankan, bahkan demikianlah yang seharusnya. Tetapi hal ini dimaksudkan untuk membantah orang-orang yang tidak beriman dengan syariat sama sekali. Allahul Musta’an.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Argumen Secara Fitrah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa setiap makhluk telah diberi fitrah untuk beriman dengan keberadaan penciptanya tanpa harus berpikir dan diajari terlebih dahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengisyaratkan tentang hal ini di dalam Al-Qur`an melalui firman-Nya:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabb kalian?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)</em>’.” (Al-A’raf: 172)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat di atas dengan gamblang menerangkan bahwa setiap manusia secara fitrah mengimani keberadaan dan Rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak ada yang berpaling dari tuntutan fitrah ini melainkan karena penyimpangan yang muncul di dalam jiwanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fitrah, kedua orangtuanyalah yang mengubahnya menjadi seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi.</em>” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Argumen Secara Logika </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa seluruh makhluk yang berada di jagad raya ini pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin mereka menciptakan diri mereka sendiri. Karena sesuatu yang awalnya tidak ada tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri. Demikian pula, mereka tidak mungkin tercipta secara tiba-tiba (ada dengan sendirinya) karena sesuatu yang baru tercipta pasti ada penciptanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin alam yang sedemikian teratur rapi dengan segala rangkaian yang sangat sesuai dan keterkaitan yang sangat erat antara sebab dengan akibat dan antara sebagian wujud dengan yang lainnya, akan dinyatakan tercipta secara tiba-tiba? Sesuatu yang muncul secara tiba-tiba yang pada asalnya tercipta tanpa suatu keteraturan tidak mungkin dalam eksistensi dan perkembangannya akan terjadi keteraturan yang sedemikian rapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, Allah Yang Maha Agung mengungkap argumen yang logis ini di dalam Al-Qur`an untuk menggugah hati kaum musyrikin yang masih tertutup dari keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yakni secara tiba-tiba) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka yang telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau mereka pula yang berkuasa?</em>” (At-Thur: 35-37)</p>
<p style="text-align:justify;">Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu ketika masih dalam keadaan musyrik, pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat-ayat ini. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata:  “<em>Hampir saja hatiku terbang, itulah saat pertama keimanan menancap di dalam hatiku.</em>” (HR. Al-Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan bahwa sekumpulan orang-orang India yang menganut aliran As-Sumaniyyah mendatangi Abu Hanifah untuk mendebatnya dalam perkara eksistensi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat cerdas. Beliau menyuruh mereka agar datang kembali setelah satu atau dua hari berikutnya. Kemudian mereka berkata, “<em>Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?</em>” Beliau menjawab, “<em>Aku sedang berpikir mengenai sebuah kapal yang penuh dengan muatan berupa berbagai barang dan mata pencaharian. Kapal itu berlayar mengarungi lautan dan akhirnya berlabuh di sebuah pelabuhan, lalu menurunkan barang-barangnya kemudian pergi. Padahal tidak ada nahkoda dan para buruh yang bekerja untuk mengangkat muatannya.</em>” Mereka berkata, “<em>Apakah engkau berpikir demikian?</em>” Beliau menjawab, “<em>Iya</em>.” Mereka pun berkata, “K<em>alau begitu berarti engkau tidak punya akal. Apakah masuk akal bahwa sebuah kapal bisa berlayar, berlabuh, dan pergi kembali tanpa ada nahkodanya? Ini sama sekali tidak masuk akal.</em>” Beliau menjawab, “<em>Bagaimana akal kalian tidak bisa menerima hal ini, namun bisa menerima bahwa langit, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, binatang-binatang melata, dan manusia secara keseluruhan tak ada Dzat yang telah menciptakannya?!</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah lainnya, suatu ketika seorang Arab dusun pernah ditanya, “B<em>agaimana engkau mengenal Rabbmu?</em>” Dia menjawab, “<em>Jejak menunjukkan kepada bekas perjalanan. Tahi onta menunjukkan kepada keberadaan onta. Maka, langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang, bumi yang memiliki lorong-lorong, dan lautan yang memiliki ombak-ombak, bukankah semua itu menunjukkan kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala)?</em>”</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Argumen Secara Panca Indera</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bahwasanya mengetahui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui panca indera bisa ditangkap dari dua sisi: <strong>Pengabulan doa</strong> dan <strong>pertolongan kepada orang-orang yang tertimpa kesusahan</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita mendengar dan menyaksikan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa orang-orang yang meminta kepada-Nya dan menolong orang-orang yang menghadapi kesusahan. Semuanya menunjukkan secara pasti tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan kami mengabulkan doanya, lalu kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” (Al-Anbiya`:76)  “(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu Dia mengabulkannya bagi kalian: ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut’.</em>” (Al-Anfal: 9)</p>
<p style="text-align:justify;">Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Seorang Arab dusun datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jum’at ketika beliau tengah berkhutbah. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, segenap harta telah binasa dan para keluarga telah lapar, maka berdoalah engkau kepada Allah untuk kami.’ Beliau pun mengangkat kedua tangannya seraya berdoa. Maka menggumpallah awan-awan laksana gunung-gunung. Tidaklah beliau turun dari mimbarnya, sampai aku melihat hujan menetes di atas jenggotnya. Kemudian pada Jum’at yang kedua, orang Arab dusun itu –atau mungkin juga yang selainnya– kembali berdiri. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bangunan-bangunan telah hancur dan segenap harta telah tenggelam, maka berdoalah engkau kepada Allah untuk kami.’ Beliau pun kembali mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, ‘Ya Allah, (alihkanlah hujan itu) di sekitar kami dan bukan pada kami.’ Tidaklah beliau menunjuk kepada satu arah melainkan telah terbuka.</em>” (HR. Al-Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Pengabulan doa bagi orang-orang yang meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjadi sebuah perkara yang disaksikan sampai masa kita ini, selama mereka menyandarkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya dan memenuhi syarat-syarat pengabulan doa.  <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mukjizat-mukjizat para Nabi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Manusia mendengar dan menyaksikan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membela dan menolong para Nabi dan Rasul-Nya dengan pelbagai mukzijat di luar batas kemampuan manusia biasa. Semua itu adalah bukti konkret yang mengungkap keberadaan Dzat yang telah mengutus mereka dengan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sana terdapat beberapa contoh nyata dan dikisahkan di dalam Al-Qur`an, di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama: Mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam ketika beliau diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Maka lautan terbelah menjadi duabelas jalan yang kering. Sementara air berada di antara jalan-jalan itu seperti gunung yang besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “<em>Lalu kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.</em>” (As-Syu’ara`: 63)</p>
<p style="text-align:justify;">Yang kedua: Mukjizat Nabi ‘Isa ‘alaihissalam ketika beliau melakukan beberapa perkara yang benar-benar di luar batas kemampuan manusia biasa. Di antaranya, beliau bisa menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dan mengeluarkannya dari kubur mereka dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “<em>Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (lalu berkata kepada mereka): ‘Sesungguhnya aku telah datang kepada kalian dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Rabb kalian, yaitu aku membuat untuk kalian dari tanah berbentuk burung; Kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak. Dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. Dan aku kabarkan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat sesuatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagi kalian, jika kalian sungguh-sungguh beriman’.</em>” (Ali ‘Imran: 49)</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu menjadikan dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniupnya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku. Dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.</em>” (Al-Ma`idah: 110)</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ketiga: Mukjizat Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau diminta oleh orang-orang Quraisy untuk mendatangkan sebuah tanda kebenaran kenabian dan kerasulannya. Maka beliau memberi isyarat ke arah bulan yang kemudian terbelah menjadi dua, dan manusia pun menyaksikannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “<em>Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus’.</em>” (Al-Qamar: 1-2)</p>
<p style="text-align:justify;">Demikianlah tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa ditangkap oleh panca indera sebagaimana tersebut di atas, yang merupakan mukjizat-mukjizat yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala membela dan menolong para Nabi dan Rasul-Nya. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa semua itu menunjukkan keberadaan Dzat Yang Maha Pencipta atas seantero alam ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Argumen Secara Syariat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bahwasanya seluruh kitab samawi telah berbicara tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Segala hukum yang termuat di dalamnya mengandung kemaslahatan-kemaslahatan bagi para makhluk. Yang demikian ini menunjukkan bahwa kitab-kitab itu datang dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hamba. Seluruh peristiwa yang diberitakan-Nya dan dipersaksikan kebenarannya oleh realita kehidupan manusia juga menunjukkan bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa saja yang telah dikabarkan-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal Penciptaan</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya, seorang hamba harus meyakini bahwa tak ada yang Maha Mencipta seluruh makhluk kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “S<em>esungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu dia Maha Tinggi di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, serta (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang, (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.</em>” (Al-A’raf: 54)</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, maka mengapa kalian berpaling (dari ketauhidan)?</em>” (Fathir: 3)</p>
<p style="text-align:justify;">Perbuatan mencipta juga bisa dilakukan oleh manusia. Berbagai hasil ciptaan manusia telah dipersaksikan oleh alam ini. Di sana terdapat pencipta-pencipta selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “<em>Maka Maha Agung Allah, sebaik-baik pencipta.</em>” (Al-Mu`minun: 14)</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam sebuah hadits telah diterangkan ancaman bagi para penggambar di hari kiamat nanti, yaitu dinyatakan kepada mereka:  “<em>Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan.</em>” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma)</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa perbuatan mencipta terkadang dinisbatkan pula kepada manusia. Namun yang perlu diingat adalah perbedaan hakikat mencipta antara yang dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan yang dinisbatkan kepada manusia. Perbuatan mencipta bagi manusia artinya mengubah wujud sesuatu yang sudah ada kepada wujud yang lainnya, bukan mewujudkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang demikian itupun masih terbatas sekali dengan kemampuan manusia yang sangat sempit dan kecil. Hal ini tentunya amat berbeda dengan perbuatan Allah yang bisa mencipta apa saja sekehendak-Nya dengan kemahakuasaan yang tanpa batas. Kesimpulannya, kita tetap meyakini tak ada yang Maha Mencipta kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal Kepemilikan</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya, seorang hamba harus meyakini bahwa tak ada yang Maha Memiliki seluruh makhluk kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “<em>Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu.</em>” (Ali ‘Imran: 189)</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kepemilikan segala sesuatu sedangkan Dia melindungi dan bukan dilindungi atas-Nya, jika kalian mengetahui?’.” (Al-Mu`minun: 88) Memiliki bukanlah perkara yang langka di tengah manusia. Selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, manusia juga bisa memiliki sesuatu. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan kepemilikan manusia di dalam Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.</em>” (Al-Mu`minun: 6)</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Atau apa yang kalian miliki kunci-kuncinya.</em>” (An-Nur: 61)</p>
<p style="text-align:justify;">Kepemilikan manusia tidak sama dengan kepemilikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kepemilikan manusia terbatas dengan apa yang dimilikinya saja. Meski demikian, sesuatu yang dimilikinya tak boleh dia pergunakan dengan sebebas-bebasnya. Dia harus mengindahkan rambu-rambu syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mempergunakannya agar dirinya tak dinyatakan melampaui batas. Oleh karena itu, kepemilikan manusia sangat terbatas dan dibatasi sedangkan kepemilikan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah mutlak. Maksudnya, kepemilikan Allah Subhanahu wa Ta’ala tak terbatas dengan apapun dan tak dibatasi oleh apapun. Seluruh alam ini adalah milik-Nya dan Dia bebas berbuat apa saja sekehendak-Nya. Kesimpulannya bahwa tak ada yang Maha Memiliki seluruh makhluk kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal Pengaturan</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Maksudnya, seorang hamba meyakini bahwa tak ada yang Maha Mengatur seluruh makhluk kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “D<em>an siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah: “Mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?</em>” (Yunus: 31)</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan manusia bila mengatur maka hanya terbatas pada apa yang dimilikinya dan diizinkan dalam syariat. Maka tak ada yang Maha Mengatur di alam ini melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.  Rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala Diakui Fitrah Kaum Musyrikin Tauhid Rububiyyah merupakan fitrah yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan pada diri manusia semenjak mereka belum dilahirkan ke dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “<em>Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul, (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah)’.” (Al-A’raf: 172)  “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.</em>” (Ar-Rum: 30)</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “<em>Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya yang mengubahnya menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.</em>” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p style="text-align:justify;">Tauhid Rububiyyah merupakan fitrah yang diakui oleh siapapun dalam kehidupan ini, kecuali hanya segelintir orang yang nyeleneh dan menyimpang dari keumuman manusia. Bahkan kaum musyrikin yang telah dikafirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diperangi oleh Rasul-Nya juga mengakui Tauhid Rububiyyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “<em>Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.</em>” (Az-Zukhruf: 9)</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.</em>” (Yunus: 31)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penyimpangan dari Tauhid Rububiyyah </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Telah dijelaskan sebelumnya bahwa keumuman manusia mengakui Tauhid Rububiyyah kecuali hanya segelintir orang nyeleneh dan menyimpang. Penyimpangan dari Tauhid Rububiyyah terbagi kepada tiga jenis keyakinan:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mengingkari dan kafir terhadapnya secara mutlak</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Keyakinanq ini dianut oleh kaum Duhriyyah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  “<em>Dan mereka mengatakan: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa’.</em>” (Al-Jatsiyah: 24)</p>
<p style="text-align:justify;">Juga dianut oleh kaum atheis/komunis yang mengatakan bahwa tidak ada pencipta, dan bahwa kehidupan ini hanya sebatas materi. Dianut pula oleh sebagian kaum filsafat yang tidak meyakini keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menia-dakannya dari Allah Subhanahu wa Ta’alaq dan menetapkannya kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align:justify;">Keyakinan ini sebagaimana yang dianut oleh Fir’aun ketika mengucapkan:  “<em>Akulah Rabbmu yang paling tinggi.</em>” (An-Nazi’at: 24)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menyekutukannya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Keyakinan ini setidaknya terdapat pada tiga aliran sesat, sebagai berikut: 1. Al-Qadariyyah yang meyakini bahwa manusia menciptakan perbuatan mereka sendiri selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berarti, menurut mereka bahwa di alam ini ada dua pencipta, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia yang menciptakan perbuatannya sendiri. 2. Al-Majusi yang meyakini keberadaan dua pencipta, pencipta kebaikan (Ilahun Nur) dan pencipta keburukan (Ilahuzh Zhulmah). Mereka telah mengkafiri dan sekaligus menyekutukan perkara Rububiyyah. 3. Orang-orang Shufiyyah (Sufi) yang meyakini bahwa sebagian para wali yang mereka gelari dengan Al-Aqthab memiliki pengaruh atas urusan alam ini bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan sebagian mereka meninggikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sederajat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara Rububiyyah dari sisi memberi kemanfaatan dan menolak bahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
Posted in tauhid  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=161&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/29/tauhid-rububiyyah-bukan-sekedar-pengakuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FATWA  MUI TENTANG SALAFY</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/24/fatwa-mui-tentang-salafy/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/24/fatwa-mui-tentang-salafy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 15:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[http://www.scribd.com/doc/14433174/Fatwa-MUI-JakUt-Ttg-Salafi
Posted in Uncategorized       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=157&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.scribd.com/doc/14433174/Fatwa-MUI-JakUt-Ttg-Salafi" target="_self">http://www.scribd.com/doc/14433174/Fatwa-MUI-JakUt-Ttg-Salafi</a></p>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=157&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/24/fatwa-mui-tentang-salafy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masa Muda, Waktu Utama Beramal Sholeh</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/09/masa-muda-waktu-utama-beramal-sholeh/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/09/masa-muda-waktu-utama-beramal-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Apr 2009 14:47:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/2009/04/09/masa-muda-waktu-utama-beramal-sholeh/</guid>
		<description><![CDATA[Masa Muda, Waktu Utama Beramal Sholeh
Posted using ShareThis
Posted in akhlaq Tagged: islam      <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=151&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/masa-muda-waktu-utama-beramal-sholeh.html">Masa Muda, Waktu Utama Beramal Sholeh</a></p>
<p>Posted using <a href="http://sharethis.com">ShareThis</a></p>
Posted in akhlaq Tagged: islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=151&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/09/masa-muda-waktu-utama-beramal-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tawakkal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/04/tawakkal-bukan-hanya-untuk-meraih-kepentingan-dunia-saja/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/04/tawakkal-bukan-hanya-untuk-meraih-kepentingan-dunia-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 15:34:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[kajian]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Tawakkal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakkal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhoi dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakkal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakkal yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=146&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tawakkal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakkal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhoi dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakkal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakkal yang paling agung adalah tawakkal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakkal para rasul dan pengikut rasul yang utama.<br />
<span id="more-146"></span><br />
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala (yang artinya),”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaaq [65] : 2-3).</p>
<p>Al Qurtubi dalam Al Jami’ Liahkamil Qur’an mengatakan,”Barangsiapa menyerahkan urusannya sepenuhnya kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya.”</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca ayat ini kepada Abu Dzar. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya,</p>
<p>”Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, sungguh hal ini akan mencukupi mereka.” Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka. (Jami’ul Ulum wal Hikam, penjelasan hadits no. 49). Hanya Allah-lah yang mencukupi segala urusan kami, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan hak kecuali Dia. Kepada Allah-lah kami bertawakkal dan Dia-lah Rabb ‘Arsy yang agung.</p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal<br />
<a rel="nofollow" href="http://rumaysho.wordpress.com/" target="_blank"><span>http://rumaysho.wordpress.</span>com</a></p>
Posted in akhlaq, kajian, renungan Tagged: islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=146&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/04/tawakkal-bukan-hanya-untuk-meraih-kepentingan-dunia-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Burung Saja Melakukan Usaha untuk Bisa Kenyang</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/04/burung-saja-melakukan-usaha-untuk-bisa-kenyang/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/04/burung-saja-melakukan-usaha-untuk-bisa-kenyang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 15:32:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[hadist]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=144&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="text">Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310)<br />
<span id="more-144"></span><br />
Imam Ahmad pernah ditanyakan mengenai seorang yang kerjaannya hanya duduk di rumah atau di masjid. Pria itu mengatakan,”Aku tidak mengerjakan apa-apa sehingga rizkiku datang kepadaku.” Lalu Imam Ahmad mengatakan,”Orang ini tidak tahu ilmu (bodoh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,”Allah menjadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (sebagaimana hadits Umar di atas). Disebutkan dalam hadits ini bahwa burung tersebut pergi pada waktu pagi dan kembali pada waktu sore dalam rangka mencari rizki. (Lihat Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, 23/68-69, Maktabah Syamilah)</p>
<p>Al Munawi juga mengatakan,”Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rizki, yang memberi rizki adalah Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakkal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rizki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rizki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)</p></div>
<div class="text"></div>
<p class="subject">oleh : Muhammad Abduh Tuasika</p>
Posted in akhlaq, hadist, renungan Tagged: hadist, islam <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=144&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/04/04/burung-saja-melakukan-usaha-untuk-bisa-kenyang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Agar Anda atau Pasangan Anda Tidak Selingkuh</title>
		<link>http://salamislam.wordpress.com/2009/03/18/tips-agar-anda-atau-pasangan-anda-tidak-selingkuh/</link>
		<comments>http://salamislam.wordpress.com/2009/03/18/tips-agar-anda-atau-pasangan-anda-tidak-selingkuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 14:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>coroayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[akhlaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salamislam.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[disalin dari: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/02/tips-ini-hanya-ditujukan-khususnya-bagi.html
 

Tips ini hanya ditujukan khususnya bagi yang telah menikah. Bagi yang belum menikah juga boleh, biar &#8220;nantinya&#8221; (setelah menikah) dapat mencoba tips ini. Selingkuh dalam terminologi ini adalah zina. Bukan selingkuhnya versi pacaran muda-mudi yang memuakkan sebagaimana terminologi kontemporer para selebritis.

1. Ikhlash kepada Allah ta&#8217;ala. Ikhlash merupakan obat penawar yang paling manjur. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=140&subd=salamislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#000000;">disalin</span><span style="color:#000000;"> dari:</span><span class="post-author vcard"><span class="fn"> http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/02/tips-ini-hanya-ditujukan-khususnya-bagi.html</span></span></p>
<h3 class="post-title entry-title"><strong><span class="post-author vcard"> </span></strong></h3>
<div class="post-body entry-content">
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-family:Verdana;">Tips ini hanya ditujukan khususnya bagi yang <strong>telah menikah</strong>. Bagi yang belum menikah juga boleh, biar &#8220;nantinya&#8221; (setelah menikah) dapat mencoba tips ini. Selingkuh dalam terminologi ini adalah zina. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Bukan selingkuhnya versi pacaran muda-mudi yang memuakkan sebagaimana terminologi kontemporer para selebritis.<span id="more-140"></span></span></p>
<div class="fullpost">
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Ikhlash kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em>. </span><span style="font-family:Verdana;">Ikhlash merupakan obat penawar yang paling manjur. Jika seseorang yang selingkuh benar-benar <em>ikhlash</em> dan menghadapkan wajahnya kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> dengan tulus, niscaya Allah <em>ta&#8217;ala</em> akan menolongnya dengan ke-Mahalembutan-Nya dengan cara yang tidak pernah terlintas dalam hatinya. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Orang tersebut tentu akan segera sadar bahwa ia sedang dalam penjagaan Rabbnya yang tidak pernah tidur, hingga kemudian dapat meninggalkan aktifitas selingkuh. Ia akan tersibukkan dengan hal-hal yang membuat ridla Rabbnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> berkata,&#8221;Sesungguhnya apabila hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah <em>ta&#8217;ala</em> dan ikhlash kepada-Nya, maka tidak ada yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat, dan lebih baik darinya&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Tindakan preventif secara umum, yaitu dengan cara menyucikan jiwa untuk membersihkan diri dari bisikan-bisikan setan yang merupakan langkah awal menjerumuskan mereka ke dalam kemunkaran. </span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan yang munkar&#8221; </span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">[QS. An-Nuur : 21].</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Orang yang hendak memasuki rumah orang lain disyari&#8217;atkan untuk memohon ijin terlebih dahulu sehingga terhindar dari pandangan yang dapat melihat aurat penghuni rumah.</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ * فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ * لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum minta ijin dan memberikan salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat ijin. Dan jika dikatakan kepadamu : “Kembali (saja)lah”; maka hendaknya kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan” </span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">[QS. An-Nuur : 27-29].</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr <em>radliyallaahu ‘anhu</em>, ia berkata :</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أتى باب قوم لم يستقبل الباب من تلقاء وجهه ولكن من ركنه الأيمن أو الأيسر ويقول السلام عليكم السلام عليكم</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">”Apabila Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> mendatangi pintu/rumah seseorang, beliau tidak berdiri di depan pintu. Akan tetapi di samping kanan atau di samping kiri. Kemudian beliau mengucapkan : <em>Assalamu’alaikum Assalamu’alaikum</em>” [HR. Abu Dawud no. 5186; shahih].</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Bila ada tamu laki-laki yang bukan mahram sementara suami tidak ada di rumah, sebaiknya ditolak. Demikian pula sebaliknya b</span><span style="font-family:Verdana;">ila ada tamu wanita yang bukan mahram sementara istri tidak ada di rumah.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda :</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">لا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلا مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya” </span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">[HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341].</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَلا تَأْذَنُ فِيْ بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلا بِإِذْنِهِ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">“Dan janganlah seorang wanita mengijinkan seseorang masuk ke dalam rumah suaminya sementara dia (suami) ada di sana, kecuali dengan ijin suaminya tersebut” </span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">[HR. Muslim no. 1026].</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Menyucikan mata dari pandangan kepada wanita atau laki-laki yang bukan mahram. Manfaat menahan pandangan sangat besar, diantaranya adalah : menyelamatkan hati dari rasa gundah-gulana yang menyakitkan, membuat hati bercahaya dan bersinar yang kelak akan terlihat pada mata, wajah, dan seluruh tubuh; terakhir, menjernihkan firasat, karena firasat itu berasal dari cahaya hati dan buahnya.</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;. Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” </span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">[QS. An-Nuur : 30-31].</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Dari Jarir bin ‘Abdillah <em>radliyallaahu ‘anhu</em> ia berkata :</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">”Aku bertanya kepada Rasulullah <em>shallallaahu ’alaihi wasallam</em> dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku” [HR. Muslim no. 2159].</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Bagi wanita, dilarang ia ber-<em>tabarruj</em> (dandanan menor) di hadapan laki-laki yang bukan mahram.</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">”Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”</span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI"> [QS. Al-Ahzaab : 33].</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Nabi <em>shallallaahu ’alaihi wa sallam </em>telah bersabda :</span></p>
<p style="text-align:right;margin:0 0 6pt 27pt;" align="right"><strong><span style="font-family:&quot;font-size:14pt;" dir="rtl" lang="AR-SA">المرأة عورة فإذا خرجت استشرفها الشيطان</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 27pt;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">”Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar (rumah), maka setan akan menghiasi dirinya (sehingga dipandang indah di mata kaum laki-laki)”</span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI"> [HR. At-Tirmidzi no. 1173; shahih].</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Larangan terhadap sesuatu yang dapat menggerakkan atau menggugah nafsu birahi laki-laki atau wanita, misalnya dengan menutup aurat sesuai dengan yang disyari&#8217;atkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Tidak bercampur-baur antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahram.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Menjauhkan diri dari sarana-sarana yang akan membangkitkan gairah seks (majalah, koran, tv, dan media lainnya yang terpampang gambar-gambar dan memuat bumbu-bumbu cerita vulgar).</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Menjauh dari &#8220;orang lain&#8221; yang dicintai (selain suami/istri = PIL/WIL ? ), sebab memisahkan diri dan menjauh akan mengusir bayangan orang yang pernah dicintai dalam hatinya, seperti mantan pacar atau rekan kerja.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">11.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Senantiasa menghadiri majelis ilmu.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:-27pt;margin:0 0 6pt 27pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">12.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Selalu konsisten menjaga shalat dengan sempurna, menjaga kewajiban-kewajiban shalat, baik berupa kekhusyukan dan kesempurnaannya secara lahir maupun bathin.</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;font-size:12pt;" lang="SV">Selamat mencoba dan semoga bermanfaat&#8230;&#8230;.</span></div>
</div>
Posted in akhlaq  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/salamislam.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/salamislam.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/salamislam.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/salamislam.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/salamislam.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/salamislam.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/salamislam.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/salamislam.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/salamislam.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/salamislam.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=salamislam.wordpress.com&blog=3548609&post=140&subd=salamislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salamislam.wordpress.com/2009/03/18/tips-agar-anda-atau-pasangan-anda-tidak-selingkuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e513fb4c22f1db9876f2d7b28a512807?s=96&#38;d=monsterid" medium="image">
			<media:title type="html">coroayu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>