As Salam

Pojok Renungan, Pembelajaran, Kajian tentang Islam

Permasalahan Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

dari milis assunah

Berikut ini adalah dua buah hadits yang berkaitan dengan permasalahan mengangkat tangan ketika berdoa :

Dari Salman al Farisi radhiyallaHu ‘anHu, Rasulullah ShallallaHu ‘alayHi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu dan Pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya apabila mengangkat kedua tangan untuk berdoa lalu mengembalikannya dengan tangan hampa” (HR. Abu Dawud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 1753, lihat Shahihul Jami’ no. 1753)

Dari Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata,

Nabi tidak pernah mengangkat kedua tangannya pada doa apapun selain pada istisqa'” (HR. al Bukhari no. 973)

Jika dilihat dari kedua hadits di atas maka akan timbul pertanyaan di kalangan kaum muslimin, apakah berdoa itu (selain dengan doa istisqa’) disunnahkan dengan mengangkat tangan atau tidak ?

Berikut pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah,

Semua doa yang terdapat pada zaman Rasulullah ShallallaHu ‘alayHi wa sallam dan beliau tidak mengangkat kedua tangannya, maka tidak disyariatkan bagi kita untuk mengangkat tangan demi mengikuti Rasulullah ShallallaHu ‘alayHi wa sallam, seperti saat khutbah jum’at, khutbah hari raya, berdoa diantara 2 sujud, berdoa di akhir shalat dan setelah shalat. Karena semua itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, yang mana kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah baik yang beliau lakukan ataupun yang beliau tinggalkan” (Fatawa Islamiyah 3/174)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah dalam Liqa’ Bab Maftuh hal. 17 dan 18 telah memberikan 3 panduannya sebagai berikut,

  1. Yang jelas ada sunnahnya dari Rasulullah ShallallaHu ‘alayHi wa sallam, maka disunnahkan untuk mengangkat tangan saat berdoa. Misalnya doa istisqa’ (doa minta hujan), berdoa di atas bukit Shafa dan Marwa serta lainnya.

  1. Yang jelas tidak ada sunnahnya, maka tidak boleh mengangkat tangan. Seperti berdoa pada saat shalat dan pada tasyahud akhir.

  1. Yang tidak ada dalilnya secara langsung, apakah mengangkat tangan atau tidak, maka pada dasarnya, hukumnya adalah termasuk dalam adab berdoa yaitu mengangkat tangan.

Syaikh Utsaimin rahimahullah juga memberikan pendapat yang sama ketika beliau ditanya tentang hukum mengangkat tangan dan berdoa seusai shalat,

Tidak disyariatkan apabila selesai shalat mengangkat tangan sambil berdoa, karena kalau dia ingin berdoa maka lebih utama dilakukan di saat shalat daripada setelah shalat sebagaimana yang terdapat dalam hadits Ibnu Mas’ud” (Fatawa Arkani Islam hal. 339)

Hal ini disebabkan karena kebiasaan Rasulullah ShallallaHu ‘alayHi wa sallam setelah shalat adalah berdzikir bukan berdoa sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,

Tidak ada satupun sahabat yang meriwayatkan bahwa Rasulullah apabila setelah selesai shalat lalu beliau berdoa bersama para sahabatnya, akan tetapi Beliau ShallallaHu ‘alayHi wa sallam hanya berdzikir kepada Allah, sebagaimana yang terdapat dalam banyak hadits” (Majmu’ Fatawa 22/492)

Dan berikut ini adalah saat-saat dimana disunnahkan untuk mengangkat tangan di dalam berdoa, karena Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam mengerjakan dan mencontohkan perbuatan tersebut :

Pertama, berdoa di bukit Shafa dan Marwa. Dari Abu Hurairah radhiyallaHu ‘anHu, dia mengatakan,

Ketika Rasulullah selesai dari thawafnya, beliau datang ke Shafa lalu naik sampai beliau melihat al Bait (Ka’bah), kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lalu mulailah membaca tahmid dan berdoa apa yang ia kehendaki” (HR. Muslim III/1406)

Kedua, berdoa di Jamratain (jumrah sughra dan wustha). Dari Abu Salim bin Abdullah (bapak dari Salim bin Abdullah), ia berkata,

Sesungguhnya Rasulullah melontar al jumrah yang berdekatan dengan mesjid di Mina, beliau melemparinya dengan tujuh batu kecil. Beliau bertakbir pada setiap kali lemparan lalu berdiri di depannya menghadap kiblat berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan berdiri di situ lama sekali …” (HR. al Bukhari I/368 dan an Nasai II/441)

Ketiga, berdoa ketika wuquf di Arafah. Dari ‘Usamah bin Zaid radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata,

Saya membonceng Nabi di Arafah, lalu beliau mengangkat kedua tangannya sambil berdoa (HR. an Nasai V/254 dalam al Mujtaba dan lainnya)

Keempat, berdoa ketika terjadi gerhana. Dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallaHu ‘anHu, ia mengatakan,

Saya akan melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah ketika terjadi gerhana pada hari itu. Kemudian saya menjumpai beliau, pada saat itu Rasulullah sedang mengangkat kedua tangannya berdoa, bertakbir, bertahmid dan bertahlil sampai terang kembali. Maka beliau membaca dua surat dan shalat dua raka’at” (HR. Muslim II/269 dan Abu Dawud I/264)

Kelima, berdoa ketika istisqa’ (dan juga berdoa istisqa’ pada khutbah Jum’at). Pada shalat istisqa’ disunnahkan di saat berdoa untuk mengangkat kedua tangan dengan cukup tinggi. Dari Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu, dia berkata,

Nabi tidak pernah mengangkat kedua tangannya pada doa apapun selain pada istisqa'” (HR. al Bukhari no. 973)

Keenam, berdoa ketika istighasah. Istighasah maknanya sama dengan isti’anah, yakni meminta pertolongan. Dari Umar bin al Khaththab radhiyallaHu ‘anHu, ia mengatakan,

Ketika perang Badar, Rasulullah melihat orang-orang musyrik itu beribu-ribu. Sedangkan para sahabat berjumlah sekita tiga ratus sembilan belas orang. Lalu Nabi menghadap kiblat menadahkan tangan dan mulailah beliau menyeru Rabb-nya, ‘Yaa Allah ! Penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan terhadapku, Yaa Allah ! Berikanlah kepadaku apa yang Engkau janjikan terhadapku, Yaa Allah ! Seandainya sekelompok dari ahli Islam ini binasa, maka Engkau tidak akan ada lagi disembah di muka bumi ini'” (HR. Muslim II/146 dan at Tirmidzi V/251)

Ketujuh, berdoa ketika di kuburan. Dari ‘Aisyah radhiyallaHu ‘anHa, dia mengatakan,

Maukah saya ceritakan kepadamu dari Nabi … hingga beliau sampai di Baqi, lalu beliau lama berdiri kemudian beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali” (HR. Muslim II/670 dan an Nasai I/655)

Kedelapan, berdoa ketika Qunut. Yang dimaksud disini adalah Qunut Nazilah. Dari Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu, dia mengatakan,

Sungguh aku menyaksikan Rasulullah menadahkan kedua tangan beliau setiap kali shalat Shubuh mendoakan terhadap mereka, yaitu terhadap orang-orang yang membunuh (ahli Qura’)” (HR. Ahmad XIX/393 dan lainnya, menurut Syuaib al Arnauth hadits ini sanadnya shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim)

Syaikh al Albani mengatakan berkaitan dengan doa Qunut Nazilah ini,

Beliau membaca doa ini dengan keras (diriwayatkan oleh al Bukhari dan Ahmad), sambil mengangkat kedua tangannya (diriwayatkan oleh Ahmad dan ath Thabrani) sedangkan makmum yang berada di belakangnya mengaminkan doa beliau (diriwayatkan oleh Abu Dawud dan as Siraj)” (Sifat Shalat Nabi, hal. 257, Pustaka Ibnu Katsir)

Kesembilan, ketika mendoakan untuk kebaikan orang-orang tertentu. Disunnahkan mendoakan kebaikkan untuk orang-orang tertentu dengan mengangkat kedua tangan dan waktu yang mustajab untuk mendoakan kebaikkan seseorang adalah dilakukan setelah berwudhu’, sebagaimana doa Rasulullah ShallallaHu ‘alaHi wa sallam untuk ‘Ubaid bin Amir, Abdullah bin Qais serta Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHum.

Dari Abu Musa radhiyallaHu ‘anHu, ia mengatakan,

Ketika Nabi selesai dari perang Hunain, beliau mengutus Abu Amir untuk memimpin pasukan ke Authas … maka Nabi meminta air lalu beliau berwudhu, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya berdoa, ‘Ya Allah ! Ampunilah ‘Ubaid Abu Amir’, aku melihat putihnya kedua ketiak beliau.

Kemudian beliau berdoa lagi, ‘Ya Allah ! Tempatkanlah ia di atas dari pada kebanyakkan manusia dari ciptaan-Mu’ … ‘Ya Allah ! ampunilah dosa-dosa Abdullah bin Qais, masukkanlah ia pada hari kiamat ke tempat yang sangat mulia'” (HR. al Bukhari III/67)

Dari Ibnu Abbas radhiyallaHu ‘anHu bahwasannya Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam memasuki kamar mandi, maka aku menyimpan air wudhu untuk beliau. Beliau bertanya, “Siapa yang meletakkan ini ?”. Maka diberitahukan kepada beliau, beliau berdoa, “Ya Allah, pahamkanlah ia dalam agama” (HR. al Bukhari I/66 no. 143)

Maraji’:

  1. Disarikan dari tulisan Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf pada Majalah Al Furqan, Lajnah Dakwah Ma’had Al Furqan, Gresik, Edisi 8, Tahun IV, Rabi’ul Awal 1426 H.
  2. Kontroversi Mengangkat Tangan Ketika Berdoa, Ustadz Wawan Shaofwan, Tafakur, Bandung, Cetakan Pertama, Syawwal 1426 H/Desember 2005 M.

Juni 21, 2008 - Posted by | hadist, kajian | ,

2 Komentar »

  1. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    Komentar oleh faisol | Agustus 28, 2008 | Balas

  2. Betul

    Komentar oleh Yusuf | Januari 7, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: