As Salam

Pojok Renungan, Pembelajaran, Kajian tentang Islam

Semua Sudah Tertulis

ditulis oleh : sunarno@tri-wall.co.id

Firman Allah:

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan ialah tertulis dalam Kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap Apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya Kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang Yang sombong lagi membanggakan diri. Yaitu Orang –orang yang kikir dan menyuruh manusia Berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling maka Sesungguhnya Allah Dialah yang mahakaya lagi maha Terpuji. (QS. Al-Hadiid:22-24)

Tafsir Ayat!

Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengabarkan tentang takdir-Nya yang telah ditetapkan perihal ciptaan-Nya, sebelum penciptaan itu selesai.

Firman:

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan ialah tertulis dalam kitab sebelum Kami menciptakannya Yaitu sebelum Kami menciptakan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Qotadah mengatakan:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi”, maksudnya adalah kemarau yang panjang. “dan pada dirimu sendiri”, maksudnya adalah yaitu rasa lapar dan sakit.

Lebih lanjut Qotadah mengatakan:

“Ada sebuah riwayat yang sampai kepada kami dan mengatakan bahwa :

tidak ada seorang pun yang tertusuk kayu, kakinya terkena batu, dan uratnya putus melainkan karena (disebabkan) oleh dosanya (sendiri). Dan yang Allah maafkan dari dosa itu lebih banyak.” Ayat yang mulia yang agung ini menjadi dalil yang paling jelas untuk membantah paham (aliran) Qadariah yang menafikan ilmu yang telah ditetapkan terdahulu.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash yang mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

Allah telah menetapkan beberapa ketetapan 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” Ibnu Wahab menambahkan,”Dan Arsy-Nya berada di atas air.”

(Imam Tirmidzi mengatakan: ini Hadits Hasan-Shohih)

Firman:

“Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Yaitu, sesungguhnya ilmu Allah tentang segala sesuatu seblum terciptanya; dan catatannya yang sesuai dengan peristiwa yang akan terjadi di saat peristiwa itu terjadi adalah mudah saja bagi Allah karena Dia mengetahui apa yang telah dan akan terjadi.

dan suatu yang tidak akan terjadi yang kalau saja terjadi maka pastilah Allah telah mengetahuinya.

Firman:

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu.”

Maksudnya Kami telah memberitahukan kepadamu tentang ilmu Kami yang telah terdahulu dan catatan Kami yang telah ada terlebih dahulu tentang segala peristiwa sebelum terjadi, dan ketetapan Kami terhadap alam ini sebelum terwujud, agar kamu mengetahui bahwa apa yang telah menimpa dirimu itu bukanlah untuk menyalahkan dirimu. Dan sesuatu yang tidak dialamatkan kepadamu maka tidak akan menimpamu. Oleh karena itu, janganlah kamu berputus asa terhadap sesuatu yang luput darimu karena kalau saja Allah menakdirkan suatu perkara maka pastilah terjadi.

Firman:

“dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”

Maksudnya, janganlah kamu lantas menyombongkan diri kepada orang lain dengan nikmat yang telah diberikan kepada-mu itu. Karena nikmat itu datang bukanlah karena usaha dan jerih payah kamu. Sesungguhnya itu terjadi adalah dengan qodrat Allah dan rezeki-Nya juga. Janganlah kamu jadikan nikmat Allah itu untuk berbuat keburukan, kesewenang-wenangan, dan kamu jadikan wasilah untuk menyombongkan diri di hadapan orang lain.

Firman:

“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Maksudnya, takabur dihadapan orang lain dan mendudukan diri lebih tinggi dari mereka, akan tetapi hendaklah disambut kebahagiaan itu dengan rasa syukur, dan kesedihan dengan rasa sabar.

Firman:

“Yaitu Orang –orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir.” Maksudnya, kikir terhadap sesuatu yang telah diwajibkan kepada mereka untuk diberikan (kepada orang lain) dan menyuruh orang lain untuk berbuat yang sama (kikir).

Sumber: Tafsir Ibnu Katsir

Oktober 11, 2008 - Posted by | tafsir |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: